Jamaah Pengajian Google+

Selasa, 28 Mei 2013

MJIB - 15. Tradisi Islam di Tengah Kehidupan Masyarakat Hindu Bali

_______________________________
Oleh : Achmad Suchaimi



Megibung : Tradisi makan bersama


Tradisi Unik “Megibung” 
Di Kampung Islam Kepaon Denpasar


Bagi masyarakat Bali, tradisi megibung, tradisi makan bersama dalam satu wadah, merupakan salah satu tradisi warisan leluhur. Selain bisa makan sampai puas dan tanpa rasa sungkan, megibung penuh nilai kebersamaan, bisa sambil bertukar pikiran, bersenda gurau, bahkan bisa saling mengenal atau lebih mempererat persahabatan sesama warga. Makan bersama atau megibung ini, dalam setiap satu wadah terdiri dari 5-8 orang, semua duduk berbaur dan makan bersama, tidak ada perbedaan antara laki dan perempuan juga perbedaan kasta ataupun warna. Tapi pada perkembangan berikutnya antara laki dan perempuan dipisahkan.  
 
Konon, Tradisi megibung di Bali ini dikenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi. Ketika pada saat itu, Karangasem dalam ekspedisinya menaklukkan Raja-raja yang ada di tanah Lombok. Ketika istirahat dari peperangan, raja menganjurkan semua prajuritnya untuk makan bersama dalam posisi melingkar yang belakangan dikenal dengan nama Megibung. Bahkan, raja sendiri konon ikut makan bersama dengan prajuritnya.
Perkampungan Islam di Denpasar dapat ditemukan di Kampung Jawa, kampung Kepaon dan Serangan. Orang-orang Islam di Kepaon dan di pulau Serangan adalah keturunan  prajurit asal Bugis. Kampung yang mereka tempati sekarang merupakan hadiah raja Pemecutan. Bahkan, hubungan warga muslim Kepaon dengan lingkungan puri (istana) hingga sekarang masih terjalin baik. Konon, jika diantara warga muslim Kepaon terlibat gesekan-gesekan dengan komunitas lain, Raja Pemecutan turun tangan membela mereka. Mereka cukup disegani.  
Kampung Islam Kepaon Denpasar Selatan punya tradisi unik kala datangnya bulan Ramadhan, yaitu tradisi megibung. Megibung sendiri secara harfiyah berasal dari bahasa Bali yang berarti makan bersama-sama dalam satu wadah.  

 Aktivitas yang mereka lakukan memang hanya kumpul-kumpul bareng sambil menikmati santap makan malam yang sudah dipersiapkan oleh warga secara bergiliran. Karena bergantian, menu yang disajikan pun tentunya bervariasi. Tradisi seperti ini sudah turun temurun sejak Islam masuk ke Bali, sejak zaman kerajaan lebih dari 500 tahun silam, dan merupakan kegiatan rutin untuk memupuk rasa silahturahmi antar warga, disamping untuk meningkatkan nilai ibadah di bulan suci.
Tradisi megibung merupakan acara tasyakuran yang dilakukan oleh penduduk muslim Kampung Kepaon di bulan Ramadhan, setelah mereka berhasil mengkhatamkan pembacaan al-Qur’an 30 juz di majlis tadarusan.   

Megibung di Masjid
Sama halnya di kampung-kampung lain yang berpenduduk mayoritas muslim, bahwa setiap ramadhan tiba, penduduk kampung Kepaon mengadakan tadarusan Al-Qur’an di masjid Al-Muhajirin Denpasar atau musholla sehabis sholat tarawih. Yang membedakannya adalah adanya tradisi tasyakuran yang disebut Megibung setiap kali mengkhatamkan pembacaan Al-Qur’an 30 juzz. Acara tadarusan Al-Qur’an ini melibatkan banyak orang,  dimana mereka membaca Al-Qur’an secara bergantian : seorang bertindak sebagai pembaca dan yang lainnya menjadi penyimak, sehingga dalam waktu antara 7 - 10 hari mereka dapat mengkhatamkan al-Qur’an 30 juz. Dengan begitu, acara Megibung paling tidak mereka lakukan sebanyak 3 atau 4 kali selama bulan Ramadhan.  
Megibung setelah berdoa
 Tradisi Megibung biasanya dilaksanakan setelah buka puasa. Tradisi ini diawali dengan buka bersama di masjid atau surau tempat tadarusan dilaksanakan, dilanjutkan dengan sholat magrib secara berjamaah. Selesai sholat maghrib, mereka dibagi dalam beberapa kelompok untuk mengelilingi sebuah baki atau nampan yang berisi nasi tumpeng beserta lauk pauknya. Setelah salah seorang pemuka agama (Kiai, Mudin, Ustadz) selesai membaca doa, mereka ramai-ramai menyantap makanan secara bersama-sama layaknya tradisi makan di Timur Tengah. Dan yang lebih unik lagi, bahwa makanan untuk megibung ini didapat dari kiriman warga secara sukarela. Siapapun boleh ikut makan, dan tidak terbatas pada warga Kepaon, bahkan warga yang beragama lain (Hindu) pun boleh nimbrung makan bersama.
Setiap Ramadan datang, umat Hindu menghormati orang Islam yang berpuasa. Ketika berbuka puasa, umat Hindu ada yang ngejot (memberikan dengan ikhlas) ketupat.
  
Muslimah Bali sedang Ngejot
Apalagi saat Idul Fitri datang, umat Hindu mengirimkan buah-buahan kepada saudaranya yang muslim, sementara pada hari raya Galungan, umat Islam memberikan ketupat (minimal anyaman ketupat). Tidak ada pencampuradukan ajaran agama dalam hal aqidah dan ibadahnya. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku, namun hidup tetap rukun.


Rabu, 22 Mei 2013

MJIB - 14. Akluturasi Budaya Islam - Hindu di Pegayaman (4)

______________________
Oleh : Achmad Suchaimi


Kesenian Muslim Pegayaman dalam rangka Perayaan Maulid Nabi



Mengarak ogoh-ogoh
Ogoh-ogoh saat Muludan sama persis dengan ogoh-ogoh yang diarak umat Hindu menjelang Nyepi. Begitu pula dengan Seka (kelompok) Zikir yang melantunkan sejarah hidup Nabi dengan cara mekidung, adalah sama seperti yang dilakukan oleh umat Hindu dalam melantunkan mantera-mantera doa Hindu.

Seni Burdah
Sedangkan hadrah adalah kegiatan melagukan syair  qosidah yang berisi sholawat dan kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad disertai iringan musik tradisional rebana. Para pemain hadrah menggunakan pakaian adat khas Bali seperti udeng (ikat kepala), kamen (sarung), dan baju adat (baju takwa putih).


Tak hanya dalam soal ritual atau ibadah. Pengaruh budaya Bali pun terlihat pada masih diterapkannya Subak. Sebagian besar warga Pegayaman bekerja sebagai petani padi, kopi, maupun cengkeh. Dalam hal ini, Subak tidak hanya sebagai kelompok pengairan, tetapi juga sebagai sebuah budaya. 
Sebagai anggota Subak, para petani muslim melakukan upacara-upacara dalam urutan pertanian. Mulai dari menanam sampai panen. Bedanya, tradisi ini dilakukan oleh petani muslim dengan cara mengaji (membaca Al-Qur’an, Dzikir, Tahlilan dan doa-doa Islam lainnya) di mushola-mushola dekat sumber mata air atau sawah. Tiap selesai panen, misalnya, para petani muslim di Pegayaman melaksanakan tradisi dzikir Abda’u, yakni tradisi tasyakuran dengan membuat sate gempol dari daging sapi dan ketupat. Sebelum bersantap menikmati makanan ini, mereka terlebih dulu membaca doa-doa dan puji-pujian dalam Bahasa Arab, yaitu membacakan dzikir Abda'u (abda-u bismillahi wa rahmani....)
 
Sistem pengairan Subak di Pegayaman.

Budaya “subak” tidak hanya ada di Pegayaman, akan tetapi juga di perkampungan muslim lainnya seperti  di  Loloan, Yeh Sumbul dan tempat lainnya.
Dalam tataran budaya, umat Islam di Loloan Jembrana telah “berbaur” dengan budaya setempat. Hal ini terlihat dari lembaga adat yang tumbuh di masyarakat muslim Bali, ternyata sama dengan lembaga adat pada masyarakat Hindu Bali. Sistem pengairan bidang pertanian tradisional (subak) misalnya, para petani muslim menerapkan pola pengaturan air seperti yang dilakukan oleh para petani Hindu, meskipun cara mensyukuri saat panen berbeda.
Petani muslim yang mengolah lahan pertanian di Subak Yeh Sumbul, Medewi, Pekutatan dan Yeh Santang (Kabupaten Jembrana) menerapkan sistem pengairan secara teratur seperti umumnya dilakukan oleh para petani Pulau Dewata, Adanya unsur kesamaan ini dapat dijadikan tonggak untuk menciptakan ‘kemesraan‘ dan tali persaudaraan antara umat Hindu dan Islam, serta umat beragama lainnya di Pulau Dewata.




Sabtu, 18 Mei 2013

MJIB - 13.Profil Kampung Muslim Pegayaman Bali (3)

____________________________
 oleh : Achmad Suchaimi

 
Pawai Ta'aruf Nyama selam di Pegayaman
  
PERKAWINAN BEDA AGAMA. 
Dalam masalah perkawinan, sepertinya ada kesepakatan tak tertulis di antara penduduk muslim dan Hindu di Pegayaman.  Bila pihak pria beragama Islam, istrinya mengikuti agama suaminya. Begitu pula sebaliknya. Perkawinan di Bali memang menganut sistem patrilinial. Proses ke jenjang perkawinan di Pegayaman berbeda dengan masyarakat desa sekitar.
Bila seorang pemuda bertandang ke rumah gadis, mereka tak boleh bertemu langsung face to face. Sang cewek tetap berada di dalam kamar, sedangkan si pria di luar. Keduanya ngobrol lewat sela-sela daun pintu atau jendela yang tetap tertutup. Tapi, pasangan yang tak punya hubungan asmara malah boleh bertemu langsung.  “Kencan” tak boleh dilakukan di malam hari. Sebab ada aturan, bahwa gadis atau remaja putri tidak boleh keluar rumah setelah maghrib. Tidak disebutkan hukuman bagi pelanggar aturan itu.


Bentuk akulturasi lain di Pegayaman adalah pada urutan perayaan hari besar. Umat Islam di desa ini punya tradisi Penyajanan (membuat jajan), Penapean (membuat tape), dan Penampahan (memotong hewan) menjelang hari raya Idul Fitri, Idul Adha dan Maulid Nabi. Sebagaimana tradisi ini juga dilakukan oleh umat Hindu dalam menyambut hari raya dan upacara ritual mereka tertentu, Tradisi-tradisi tersebut, selain untuk menambah semangat saat berhari raya juga untuk saling berinteraksi antar warga. Misalnya Penampahan, tradisi ini dilakukan dengan memotong sapi yang dibeli secara urunan, disebabkan harga sapi per ekornya cukup mahal. Dengan cara urunan ini warga muslim dapat saling berbagi beban, sekaligus belajar membagi secara adil.
Tradisi Male di Pegayaman

Maulid Nabi di Pegayaman : Pawai Mengarak Sokok Talu
Di Pagayaman  ada semacam tradisi masyarakat  setempat yang  menunjukkan adanya toleransi  yang kuat dalam masayarakat Bali,  yang disebut MaleMale adalah bentuk ritual ketika masyarakat muslim Bali memperingati hari Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebelum membaca Shalawat Nabi (Diba’ / Barzanji) di masjid, masyarakat Islam di Bali mengadakan pawai berkeliling kampung dengan membawa “sokok”, yaitu hiasan dari telur atau bunga, yang dihias sesuai dengan keinginan pemiliknya, Sokok Basa terbuat dari bunga sedangkan Sokok Taluh dari telur. Sokok ini mirip pajangan dalam upacara umat Hindu Bali.  Beragam bentuk akan ditemukan, mulai dari bentuk Pura, Perahu, Masjid dan lain-lain. 
Membuat Sokok Taluh
Sokok berupa telur atau bunga yang ditusuk bambu dan dihiasi kertas warna menyala ini kemudian diusung keliling kampung secara berombongan yang dikawal dengan pasukan khusus dari adat Bali yang disebut Pager Uyung, yaitu kaum ksatria adat baik muslim maupun Non Muslim.  Dalam pawai ini, ada hadrah, pencak silat, drum band, ogoh-ogoh (patung raksasa) dan berakhir di masjid. Sesampainya di masjid ada pembacaan kitab Al-Barzanji yang berisi riwayat kelahiran Nabi Muhammad dan doa bersama. Setelah itu ada khotbah singkat. Terakhir, setelah dibacakan doa, sokok-sokok itu kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak yang datang. Saat pembagian sokok hampir sama seperti saat pembagian apem Gerebegan Suro di Solo dan Yogyakarta.

MJIB - 11. Profil Kampung Muslim Pegayaman Bali (1)


__________________________
 Oleh : Achmad Suchaimi

Pawai dalam rangka Nyama Selam di Pegayaman
Profil kehidupan masyarakat Islam di desa Pegayaman barangkali merupakan contoh yang pas dalam menggambarkan terjadinya akulturasi tradisi-budaya Islam dan Hindu di Pulau Bali.

ALUNAN nyanyian sekelompok lelaki terdengar seperti tembang kidung Wargasari, sebuah lagu pujaan yang biasa dilantunkan oleh umat Hindu. Namun syairnya dalam bahasa Arab, bukan bahasa Bali atau Jawa Kuno. Musik pengiringnya juga bukan tetabuh gong atau gamelan Bali, melainkan rebana yang bentuknya mirip dengan kendang Bali.

Seni Burdah Muslim Pegayaman
 Lirik lagunya berisi salawat dan kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW. Inilah kesenian khas Desa Pegayaman, yang disebut burdah. Untuk mengiringi lagu ini, seorang pria menari dengan pakaian adat Bali. Kepalanya diikat udeng dengan memakai kamben mekancut, yakni kain yang melilit pinggang dan ujungnya terjurai dengan ujung meruncing sampai di bawah lutut.
 Penari itu meliak-liukkan badan, dan memainkan mata serta jemarinya, seperti lazimnya dalam tarian Bali. Tapi, dalam gerakannya terbaca kombinasi antara tari Bali dan pencak silat. Inilah tari taman, satu di antara sejumlah tarian khas desa ini. Ada juga tari perkawinan, yang khusus digelar pada upacara pernikahan.
  Lagu dan tarian ini memang sangat Islami, tapi kental dengan nuansa Bali. Sebab, para pelaku-nya memang umat Islam yang bermukim di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Sebagian besar penduduk desa ini muslim. Mereka disebut Nyama Slam atau Saudara Islam oleh warga Hindu Pegayaman dan sekitarnya.

Kondisi Geografis 
 Pegayaman terhampar di lereng Bukit Gigit, satu di antara jajaran perbukitan yang memagari Bali Utara dengan daerah bagian selatan. Jaraknya sekitar 70 km dari Denpasar, di tengah jalur menuju Singaraja. Wilayah seluas 1.584 hektare ini dihuni oleh 999 kepala keluarga  dengan 4.821 jiwa. Hampir seluruh warganya adalah muslim meski berada di Bali yang sangat identik dengan Hindu. Hanya 477 orang penghuni desa ini beragama Hindu.
  Pegayaman dibagi menjadi empat banjar atau dusun: Banjar Dauh Rurung (Barat Jalan), Banjar Dangin Rurung (Timur Jalan), Banjar Kubu dan Banjar Mertasari. Tidak berbeda dengan desa adat di seluruh Bali, setiap banjar dipimpin oleh seorang kelian alias kepala banjar.
Tak sulit mencari lokasi desa ini, meskipun ia berada di lereng bukit dan dikelilingi kebun cengkeh dan kopi. Menjelang jalan masuk ke Pegayaman, dipasang papan penunjuk arah yang cukup mencolok. Jalan raya menuju desa  seluruhnya diaspal mulus. Sedangkan jalan-jalan yang lebih sempit diperkeras dengan semen.

 

MJIB - 12. Asal-Usul & Tradisi Islam di Pegayaman Bali (2)


______________________________
 oleh : Achmad Suchaimi 

I Gusti Ngurah Panji Sakti
 
Asal Usul Penduduk Muslim Pegayaman
Ada beberapa versi. Menurut satu versi, seperti yang diceritakan oleh salah satu tetua desa Pegayaman (Bapak Ibrahim), bahwa umat Islam di Pegayaman sudah ada sejak zaman kekuasaan Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Panji Sakti, yang berkuasa pada abad ke-15. Menurut  versi ini, Raja dari Solo pernah menghadiahkan seekor gajah dan 80 prajurit kepada Raja Panji Sakti sebagai tanda persahabatan. Para prajurit dari Solo ini kemudian ditempatkan di Desa Pegayaman untuk membentengi Puri Buleleng dari serangan raja-raja Bali Selatan, yaitu Raja Mengwi dan Badung. Mereka hidup menetap dan berbaur dengan penduduk desa lainnya.  
 Cerita Ibrahim tersebut memang tidak didukung oleh bukti tertulis. Dalam berbagai lontar sejarah Bali yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja, tidak ada catatan khusus mengenai sejarah Islam Pegayaman. Dalam Babad Dalem, dokumen tentang raja-raja di Bali pun hanya tertulis masuknya Islam ke Bali secara umum, bahwa pada abad ke-15, di masa pemerintahan Raja Gelgel, Klungkung (sekitar 32 km sebelah timur kota Denpasar), Sang Raja  mendapat bantuan 40 prajurit dari Raja Majapahit yang mayoritas muslim, sepulangnya mengikuti konferensi Raja-raja se Nusantara di ibukota Majapahit atas undangan Hayam Wuruk.
Pada masa-masa selanjutnya, kedatangan para prajurit  Majapahit ini lalu diikuti arus migrasi dari Jawa, Madura, Bugis,  Sasak, dan Lombok. Beberapa dari mereka inilah yang kemudian menetap di Pegayaman. 

Ada juga catatan dalam sebuah lontar tentang sekelompok imigran Islam yang datang ke Buleleng pada masa pemerintahan I Gusti Ketut Jelantik, tahun 1850. Rombongan ini diduga berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan. Sebab, sampai sekarang beberapa tetua desa Pegayaman masih mengaku keturunan Bugis. Imigran ini menetap di Desa Pegayaman, yang hanya berjarak 9 km di selatan Singaraja, ibu kota Buleleng. Di desa ini mereka kemudian berbaur dan terjadilah kawin campur.

Memeluk agama Islam tidak membuat tata cara kehidupan penduduk Pegayaman harus berbeda  dengan penduduk yang menganut Hindu. Perbedaan mencolok hanya tampak dari hiasan rumah. Umat Islam Pegayaman tidak memakai hiasan ukir-ukiran yang pada bangunan milik warga Bali seakan wajib hukumnya. Juga tidak ada bangunan sanggah, tempat pemujaan keluarga yang umum terdapat di setiap rumah penduduk Hindu Bali.
Penduduk muslim Pegayaman memang penduduk “asli” Bali. Bukan “orang Islam pendatang” yang dikonotasikan sebagai pedagang sate, bakul jamu, atau sejenisnya. Seperti penduduk desa sekitarnya, pekerjaan pokok mereka berkebun dan bertani.
   Perbedaan itu pun tak membuat mereka mengambil jarak, apalagi menjadi eksklusif. Bila warga Hindu menyongsong hari suci Nyepi, warga muslim beramai-ramai membantu mengusung ogoh-ogoh, boneka gergasi yang dibuat sehari menjelang Nyepi.
Mengarak Ogoh-ogoh
  Mereka juga ikut menghentikan kegiatan sehari-harinya dan hanya berdiam di rumah pada hari Nyepi. Pada hari raya  Galungan, umat Hindu juga tetap ngejot, yakni tradisi mengantarkan makanan ke rumah tetangga, meskipun tetangganya muslim.  Sebaliknya, pada Idul Fitri dan Idul Adha, umat Islam Pegayaman ngejot ke para tetangga Hindu.



Penjor
Pada waktu Idul Adha, penduduk yang beragama Islam membuat penjor, yaitu bambu berhias yang ditancapkan di depan rumah. Tentu saja tanpa disertai sesajen. Dalam pembuatannya, warga Hindu ikut membantu menghias sampai menancangkannya. Umat Islam hanya membuat penjor saat Idul Adha yang perayaannya lebih meriah ketimbang Idul Fitri. Mereka menggelar tari-tarian khas daerah itu, memasak makanan lebih banyak, dan anak-anak memakai baju baru. Pada saat Idul Fitri, mereka hanya menjalankan salat id dan bersilaturahim. Tidak ada kemeriahan lainnya.

Ketika memberikan nama, misalnya, mereka tetap mengikuti tradisi. Sebagaimana orang Bali, umat Islam Pegayaman menggunakan nama depan Wayan (anak pertama), Nengah (anak kedua), Nyoman (anak ketiga), dan Ketut (anak keempat). Namun nama belakang mereka biasanya menggunakan nama Islam yang berbahasa Arab. Misalnya Nengah Ulul Azmi, Ketut Sholahuddin, Ketut Asghor Ali, Nengah Maghfiroh dan seterusnya.
Ketika mereka saling memberikan salam, terdengarlah “bunyi” yang unik: “Assalamu’alaikum, Pak Ketut Ibrahim”, kemudian dibalas “Wa’alaikumsalam, Wayan Arafat!”
Ketika datang bulan Ramadhan, menjelang malam, sekitar pukul 6 sore itu, suasana desa mulai terlihat ramai di jalan, terutama oleh anak-anak yang sedang bermain. Mereka menunggu waktu berbuka puasa. Di antara anak-anak tersebut, sebagian anak terlihat berjalan sambil membawa makanan dalam tas plastik. Mereka membawanya ke rumah paman, bibi, atau keluarganya yang lain, dan tetangga dekat. Mereka sedang Ngejot.


Ayo, Ngejot!
 Tradisi Ngejot setiap datangnya bulan Ramadhan adalah salah satu bentuk akulturasi antara tradisi Hindu dan Islam di Desa Pegayaman. Ngejot menunjukkan bahwa umat Islam di Pegayaman masih melakukan tradisi yang sama dengan umat Hindu di Bali. Selama tradisi tidak melanggar batas keyakinan agama (aqidah), hal ini sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi kalau sekedar berbagi dengan orang lain.

Makanan yang diberikan umat Islam saat Ngejot tidak jauh berbeda dengan yang diberikan umat Hindu Bali, antara lain berupa jaja uli, buah, rengginang, dodol, dan semacamnya.
 Tradisi Ngejot tidak hanya dilakukan umat Islam di Pegayaman. Sebagian muslim di daerah lain seperti di Denpasar pun melakukan hal yang sama. Biasanya tradisi Ngejot di daerah yang masyarakatnya plural malah diberikan kepada umat agama lain, termasuk umat Hindu.
Tradisi Ngejot, mengantar makanan
Selain tradisi Ngejot, masih banyak tradisi lain yang menunjukkan bentuk akulturasi antara tradisi-budaya Hindu dan Islam di Bali. Dalam hal ini, umat Hindu dan Islam saling mengisi dan tanpa harus menimbulkan ketegangan.