Jamaah Pengajian Google+

Kamis, 27 Juni 2013

MJIB - 19. Sejarah Kampung Muslim Loloan dan Air Kuning Jembrana - Bali


_____________________________

Oleh : DHURORUDIN MASHAD



Al-Qur’an Kuno di Masjid Baitul Qodim Loloan
Hari masih pagi, tetapi sinar mentari sudah terang benderang menyinari bumi. Tetapi di sepagi itu saya dkk sudah sampai di wilayah Loloan,  tempat komunitas Islam yang telah sangat lama keberadaannya.  Sangat tepat jika eksistensi kampung itu disebut sebagai kampung kuno saja.
Sejarah keberadaan komunitas muslim Loloan  merupakan keturunan dari tanah Melayu (Kuala Trengganu) dan kaum Bugis yang sudah beberapa abad  lalu masuk Bali.  Eksistensi mereka ini juga menjadi bukti historis bahwa Islam telah lama masuk di wilayah Jembrana ini.  Hingga kini mereka bertahan dengan agama Islam dan adat-istiadat Melayu. Bahkan,  berbeda dengan komunitas muslim yang juga tergolong kuno di lokasi lainnya yang umumnya memakai bahasa Bali sebagai alat komunikasi seharí-hari,  komunitas di tempat ini ternyata tetap menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian di kalangan mereka.
Daerah Lolohan terbagi menjadi tiga wilayah:  Lolohan Selatan, Timur, dan Barat. Masyarakat setempat biasa menyebut Lolohan Selatan dengan Markesari. Penduduk Markesari 95   persennya  memeluk agama Hindu. Adapun Lolohan Barat dihuni penduduk Muslim dan non Muslim. Dengan perbandingan 50 persen Muslim dan 50 persen lainnya non Muslim, campuran antarai: Hindu, Budha, Kristen dan lainnya
Dengan dibatasi sebuah sungai yang membentang dan atau membelah wilayah,  di sebelah  timur lokasi ini membentang wilayah yang disebut Loloan Timur. “Sungai itu dahulu banyak sekali buayanya”,  kata sesepuh kampung yang sempat kami jumpai. Lolohan Timur adalah sebuah kawasan penduduk di pulau Bali yang hampir 96 persen penduduknya memeluk agama Islam. Lolohan Timur masuk wilayah Negara (baca: Negare), Kabupaten Jembrana, Bali. Tempat ini berada kurang lebih 25 km. dari Pelabuhan Gilimanuk, dan berjarak sekitar 84 km. dari Kota Denpasar. Lolohan Timur merupakan desa yang hijau. Bermacam-macam tanaman tumbuh subur disana.  Penduduk Lolohan Timur sebagian besar bekerja sebagai nelayan yang tidak mencari ikan di laut, tetapi di pengambengan. Pengambengan menyerupai danau kecil yang banyak dihuni ikan.  Pengambengan mungkin lebih tepat disebut rawa.  (Ali Romdhoni,, ”Mengintip Aktifitas Masyarakat Muslim Lolohan Timur Bali”,  AMANAT, Edisi 101/ Agustus 2004).
Di Loloan Timur yang dominan Muslim inilah terdapat beberapa pesantren, termasuk Pondok Pesantren Manbaul Ulum. Usia pesantren ini tergolong paling tua. Pondok ini didirikan KH Ahmad Dahlan Al-Hadi (tahun 1935) yang asal-usulnya dari  Semarang. Pondok ini pernah besar dan santrinya mencapai ribuan orang. Namun sejak terjadi gempa tahun 1976, yang meruntuhkan seluruh bangunan pondok, jumlah santri tersisa 11 orang. Selang beberapa waktu dari peristiwa gempa itu,  KH Ahmad Dahlan Al-Hadi wafat. Kemudian tampuk pimpinan pondok diteruskan menantunya, KH Zaki Abdurrahman, suami Hj Musyarofah, putri tertua dari istri ke-2 KH Ahmad Dahlan.
Masyarakat Muslim Lolohan timur mendapat perlakukan istimewa termasuk dalam hal mendirikan tempat ibadah. Bagi masyarakat Muslim Bali, mendirikan bangunan rumah ibadah (mushola apalagi masjid) tidaklah mudah. Namun,  khusus untuk Lolohan Timur hal itu tidak lagi menjadi masalah. Khusus daerah ini, mendirikan masjid tidak perlu melalui prosedur yang berbelit-belit sebagai mana yang terjadi di daerah lainnya.
Hingga sekarang, Loloan dikenal sebagai daerah muslim terbesar di Bali. Menariknya, peninggalan Islam tersebut masih terpelihara dengan baik. Seperti prasasti dari ukiran kayu dan Al-Qur’an hasil tulisan tangan yang saat ini disimpan di Masjid Jami’ Baitul Qadim, Loloan Timur. Al Qur’an dan ukiran kayu yang berusia lebih dari dua ratus tahun, berbunyi, Hijrah Nabi S.A.W 1268 tahun Wau (arab) kepada tahun Ha (Arab) sehari bulan Zulhijah hari Senin.  Masjid di Loloan Timur usianya juga sama tuanya dengan keberadaan masyarakatnya.  Hanya saja bangunannya sama sekali sudah tidak meninggalkan bekas-bekas aslinya,  karena semua sudah dirubuhkan diganti total dengan bangunan modern.  ”Namun,  beberapa sisa kayu belandar masih tersimpan di lantai dua”,  kata seorang pengurus masjid yang saya temui,  sekaligus mengantarkan ke atas untuk menunjukkan sisa-sisa kayu blandar yang ada.
”Tapi apalah artinya sisa onggokan kayu yang digeletakkan begitu saja.  Pasti tak akan lama lagi  kayu itu akan terbuang juga”,  kata hatiku menyayangkan pembongkaran ini.  Sekali lagi,  inilah bukti bahwa bangsa kita dimanapun lokasinya, apapun pangkat dan derajadnya,  rakyat ataupun pejabat,  tampak  kurang  menghargai segala hal berbau sejarah. Mereka umumnya silau terhadap imitasi kemodernan termasuk dalam segi bangunan. Hanya ketika mereka melancong ke mancanegara dan memperhatikan bangunan-bangunan kuno yang terawat baik,  mereka berdecak kagum tanpa kesadaran mendalam untuk merawat koleksi sejarah yang ada di negaranya.
Selain Loloan,  saya dkk diantarkan pula ke komunitas Muslim tua lainnya yakni di Desa Air Kuning. Desa Air Kuning ini bersebelahan dengan Desa Yeh Kuning yang juga berarti air kuning.  Bedanya, jika Air Kuning komunitas penghuninya adalah muslim,  maka Yeh Kuning ditempati oleh komunitas Hindu. Pada masa perjuangan 1945 desa Air Kuning ini dijadikan tempat persinggahan pejuang yang tergabung dalam Pasukan Sunda Kecil yang dipimpin Kol (Anumerta) I Gusti Ngurah Rai, yang sekarang namanya diabadikan sebagai nama Bandara Internasional di Bali.
Komunitas Muslim Loloan dan Air Kuning di Jembrana alias Jimbarwana ini yang pertama ada  berasal dari Bugis. Mereka datang  dalam dua tahap, pertama tahun 1653-1655,  dan kedua tahun 1660-1661 menyusul berakhirnya perang Makasar antara kerajaan Gowa vs.  VOC.  Kaum Bugis/Makasar ini umumnya merupakan pelarian   menyusul perjanjian Bungaya setelah kekalahan Gowa oleh Belanda.  Kaum pelarian ini  sempat beberapa kali pindah tempat,  sebab mereka memang  dikejar-kejar Belanda.  Mereka nomaden di   sekitar  daerah pantai timur dan utara Sumatera, pantai barat dan selatan Kalimantan (disebut orang Bugis Pegatan),  Jawa Barat (Banten),  Pasuruan (Jawa Timur),  dan terakhir Badung  dan Air Kuning -Jembrana (Bali).
Pelarian asal Sulawesi Selatan itu memang terus dikejar-kejar serdadu VOC (pasukan Spelman) dan Arung Palaka karena sebagian perahu sisa sekuadron Bugis/Makassar itu masih memiliki senjata meriam.  Kala itu VOC kepada masyarakat sengaja membangun image negatif bahwa kaum pelarian itu adalah perompak,  karena mereka memang kerap melakukan serangan terhadap kapal-kapal VOC. Bahkan,  setelah Makassar jatuh di tahun 1667 Belanda membuat sayembara bahwa siapapun yang dapat menangkap sekuadron perahu-perahu keturunan sultan Wajo (berjumlah 4 buah) yang disebut Iinun  alias perompak ini akan diberi hadiah sepuluh ribu ringgit.
Sebelum ke Bali pelarian dari Gowa itu sempat bersembunyi di teluk Panggang Blambangan,  dan bertahan hidup sebagai nelayan. Sebagian dari mereka berikutnya kemudian pindah ke Buleleng (pantai Lingga),  namun ada pula yang ke Jembrana. Kala itu, baik Blambangan maupun Jembrana memang berada di bawah pengaruh kekuasaan Buleleng.  Daeng Nachoda  misalnya,  tertarik untuk pindah ke Jembrana tahun 1669.  Semula mereka mendarat di Air Kuning dan memasuki Kuala Perancak,  serta tinggal untuk sementara di lokasi yang disebut kampung Bali. Peninggalannya sampai kini masih ada berupa sumur yang jernih, yang oleh warga disebut sumur Bajo.  Akhirnya mereka diberi ijin penguasa Jembrana, yakni marga Arya Pancoran (Gusti Ngurah Pancoran),  untuk menetap. Tempat  mereka itu kini dikenal sebagai  pelabuhan Bandar Pancoran (pelabuhan lama di Loloan Barat) (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..
Eksistensi kaum pengungsi ini dalam kenyataannya tidak menjadi beban melainkan justru menjadi berkah bagi Jembrana dan wilayah-wilayah Bali lainnya.  Untuk di wilayah lain,  saya telah menguraikan bahwa mereka akhirnya menjadi kekuatan keamanan utama.  Khusus untuk di Jembrana ada manfaat khusus yang didapatkannya, yakni: masyarakat muslim asal Sulawesi Selatan itu akhirnya berhasil membangun simpul ekonomi baru berupa pelabuhan.
Berkat  perahu-perahu pedagang jelmaan sekuadron keturunan Sultan Wajo itu,  Jembrana  akhirnya menjadi wilayah yang tak lagi terisolir dari dunia luar. Realitas ini menyebabkan hubungan antara kaum Bugis/Makasar  dan keraton menjadi akrab.  Apalagi,  Daeng Nachoda dan penembak-penembak meriam Bugis/Makasar ini akhirnya menjadi tulang punggung kekuatan Jembrana,  terutama ketika I Gusti Ngurah Panji Sakti (1660) raja Den Bukit,  Singaraja (Buleleng)  menyerang  Jembrana. Jembrana memang kalah,  dan menjadi kerajaan vasal  Buleleng,  namun dukungan kaum Muslim ini tetap tertancap kuat dalam benak keraton.
Di era penguasaan Buleleng ini,  kaum Muslim memanfaatkan situasi untuk memperlebar jaringan dagang sekaligus penyebaran Islam.  Daeng Nachoda dan anak buahnya misalkan,  utuk memperlebar sayap perniagaan ke Buleleng,  sekaligus untuk menyebarkan Islam.  Perahu-perahu yang mereka miliki dijadikan penghubung logistik (perekononian) yang penting antara Buleleng-Jembrana.  Walhasil, meski secara politik berada di bawah kekuasaan Buleleng,  tetapi Jembrana  kala itu justru berkembang maju terutama dalam konteks pelabuhan dan atau perniagaan.
Ketika  I Gusti Ngurah Panji Sakti (raja Buleleng) melepaskan pengaruh  kekuasaannya atas Blambangan,  sehingga  dilepaskan pula pengaruhnya atas Jembrana yang kala itu di bawah kendali Dhalem Dewa Agung Jambe (yang sangat fanatik Hindu bahkan feodalistik).   Kala itulah raja Mengwi mengambil alih Jembrana,  mengingat Mengwi memang ikut  berjasa dalam penaklukan Blambangan.  Apalagi  raja Mengwi  adalah pula ipar Panji Sakti sendiri.
Tahun 1697 terjadi banjir bandang,  Sungai Ijo Gading meluap,  menghancurkan keraton Brambang (pusat kerajaan Jembrana) termasuk keluarga raja I Gusti Ngurah Putu Tapa dan rakyatnya. Meski ikut keterjang banjir,  tetapi perkampungan Bugis di Bandar Pancoran selamat. Wakil Raja (I Gusti Ngurah Made Yasa)  juga selamat, karena kala banjir bandang ia sedang  berkunjung ke Mengwi untuk mengundang Ngeluwur (Pengabenan Besar).  Mengwi sebagai negara ”atasan” membantu patih untuk membangun kembali kerajaan Jembrana,  yang akhirnya dipindahkan dari Brambang ke Jembrana.  Ketika membangun istana yang diberi nama Jero Andol ini kaum ”pelarian” asal Blambangan yang terdesak oleh perkembangan Islam ikut membantu juga.
I Gusti Ngurah Putu Yasa ”dinilai” tak mampu memimpin negeri, oleh karena itu akhirnya diambilkan raja pengganti, yakni  putra bungsu raja Mengwi I Gusti Agung Alit Takmung dengan gelar Anak Agung Ngurah Jembrana. Namun raja baru ini masih kecil,  sehingga ia  didampingi ibu (I Gusti Ayu Ler Pacekan) dan kakeknya ( I Gusti Ngurah Takmung) sebagai patih yang membangun puri Jeroan Pasekan.  Khusus kepada keluarga Marga Arya Pancoran (penguasa lama) diberi jabatan sebagai kepala pasukan perang dengan dibantu Arya Bengkel dan Arya Kelaladian yang datang dari Mengwi bersama raja.  Umat Islam Jembrana menjadi inti dalam pasukan Marga Arya Pancoran ini.
Kala itu para Arya dan umat Islam hidup rukun,  dan Jembrana mencapai puncak kemasyhuran, terutama berkat  pelayaran perdagangan kaum Bugis hingga ke Palembang. Bandar Pancoran menjadi pelabuhan perniagaan, di tengah realitas Jembrana yang masih tertutup hutan belantara..  Oleh karena itu,  perahu-perahu Bugis pun membawa kuda dari  Sumbawa untuk keperluan transportasi darat di Jembrana.
Di era raja ketiga (Anak Agung Putu Handul),  yakni putra I Gusti Agung Lebar,  kerajaan Jembrana diserang raja Cokorde Tabanan. Namun, serangan ini berhasil dihadang pasukan dan atau para pendekar Islam.  Tahun 1670 Raja Badung, Cokorde Pemecutan juga menyerang dari arah selatan desa Perancak,  tetapi juga gagal karena banyak yang dimakan buaya.
Ketika Anak Agung Putu Handul digantikan  putranya,  Anak Agung Putu Sloka (sebagai raja keempat) dan adiknya Anak Agung Nyoman Madangan (wakil raja)  perlakuan kerajaan terhadap umat Islam kian baik.  Bahkan, untuk kian mendekatkan diri dengan komunitas Islam,  maka di tahun 1798 raja membangun  puri baru di sebelah utara Bandar perkampungan Islam,  di sebelah barat sungai Ijo Gading,  yang diberi nama Negeri (Negara). Di era itulah  datang lagi beberapa perahu dari Sulawesi Selatan serta  minta ijin tinggal di Air Kuning.  Mereka dipimpin para mubaligh seperti : H. Sihabuddin dan  H. Yasin (Bugis asal Buleleng), Tuan Lebai (Melayu asal Serawak) dan Datuk Guru Syekh (0rang arab).
Selain perahu Bugis,  datang juga iring-iringan perahu pimpinan Syarif Abdullah Al Qodri yang tak lain  adik Sultan Pontianak Syarif Abdurrahman Al Qodery.  Kala itu Sultan Pontianak takluk pada Belanda  (1799). Karena,  sang adik  (Syarif Abdullah Al Qodery) tidak terima  realitas itu,  ia meneruskan perlawanan di Lautan,  serta berpetualag dengan membawa sekuadron bersenjata meriam. Satu perahu menetap di Lombok Timur,  sisanya sampai di Air Kuning Jembrana.  Syarif Abdullah Al Qodri mengadakan kesepakatan dengan umat Islam di Jembrana. Ketika menyusuri  Sungai Ijo  Gading ke utara menuju Shah Bandar,  Syarif Abdullah memberi aba-aba pada anak buah dengan bahasa kalimantan Liloan (tikungan),  sehingga kampung di sekitarnya lantas diberi nama Loloan hingga sekarang.
Dua ekspedisi (Bugis dan Pontianak) tadi merupakan gelombang kedua kedatangan Islam di Jembrana. Kedatangan dua kelompok muslim ini disambut baik raja.  Ada alasan mendasar kenapa dua kelompok umat Islam ini diterima dengan tangan terbuka: Pertama,  eksistensi umat Islam di Jembrana yang telah ada ternyata mampu menjalin hubungan baik dengan komunitas Hindu.   Kedua,  umat Islam yang telah ada di Jembrana terbukti mampu menjadi tenaga pasukan yang sangat diandalkan serta mempunyai loyalitas tinggi.  Terbukti,  ketika keraton Jembrana hancur dan keluarga raja tumpas oleh banjir bandang,  komunitas Islam tak lantas membangun sebuah kerajaan tersendiri.  Mereka bahkan membantu pembentukan keraton baru yang dilakukan Patih atas bantuan raja Mengwi. Ketiga,  kenyataannya umat Islam memiliki jasa luar biasa dalam pengembangan pelabuhan perniagaan yang memiliki pengaruh sangat positif bagi kemajuan kerajaan. Keempat, kala itu Blambangan telah dikuasi Belanda,  sehingga dapat mengancam pula keamanan bahkan masa depan Jembrana.  Walhasil,  kehadiran para pelarian asal Kalimantan dan Sulawesi yang semuanya bekas pasukan kerajaan ini tentu dapat menampah kekuatan kerajaan.
Menurut aturan kerajaan seluruh meriam sebenarnya harus diserahkan ke raja,  seperti telah dilakukan kaum Bugis yang telah datang duluan pasca perang Makasar.  Tetapi,  Syarif Abdullah menawarkan  cara lain,  yakni:  meriam tetap dikuasai sendiri, tetapi akan digunakan untuk membela Jembrana. Kesepakatan dicapai dan kepada kaum Islam asal Kalimantan ini dipersilahkan tinggal di kanan kiri tebing sungai Loloan seluas 80 hektar.  Lokasinya ada di sebelah utara Bandar Pancoran.
Syarif Abdullah membuat  perkampungan darurat di sebelah timur sungai yang kini disebut Loloan Timur. Perahu perang yang dimiliki diubah menjadi kapal perniagaan,  bahkan akhirnya menjelajah hingga Singapura. Kala itu Loloan Timur dan Loloan Barat akhirnya menjadi desa administratif konsesi untuk umat Islam di Jembrana. Sedangkan,  desa administratif yang berbentuk desa adat Hindu adalah desa Mertasari, Lelaleng, Banjar Tengah, dan Baler Bale Ageng.  Loloan Barat  dan Timur akhirnya  menarik minat umat Islam dari Jawa dan Madura untuk ikut menetap.
Seiring dengan adanya komunitas Islam yang baru tadi,  Jembrana kian mengalami kemajuan terutama dalam perekonomian.  Raja Buleleng (Anak Agung Gde Karangasem) tertarik pada kemakmuran Jembrana,  sehingga di tahun 1828 Buleleng menyerang:  ingin menaklukkan Jembrana untuk kedua kalinya.   Raja Jembrana, Anak Agung Putu Seloka dan adiknya (yang tak lain wakil raja) diungsikan dengan perahu Bugis ke Banyuwangi. Pada penyerangan pertama,  pasukan Jembrana yang diperkuat pasukan Bugis-Pontianak ini berhasil mengalahkan Buleleng,  bahkan panglima Buleleng Anak Agung Gde Karang tewas.  Namun, pada penyerangan yang kedua,   pasukan Jembrana dapat dikalahkan,  meskipun perang gerilya tetap berlanjut (Saleh Saidi & Yahya Anshori (eds), Sejarah Keberadaan Umat Islam di Bali,  Denpasar: MUI, 2002.)..
Umat Islam Jembrana kembali memperlihatkan kesetiaan,  tetap memegang teguh janji persahabatan dengan kerajaan Jembrana. Terbukti, meskipun sampai tahun 1832 selama 4 tahun ada kekosongan  (karena raja dan wakil raja mengungsi),  umat Islam tak lantas melepaskan diri (apalagi mengambil alih kekuasaan)  dari Jembrana.  Mereka bahkan terus membantu rakyat Hindu yang susah karena perang. Baru pada tahun  1835 terjadi kesepakatan damai antara Jembrana – Buleleng,  menyusul penguasaan Buleleng atas Jembrana untuk kedua kalinya. Intinya: raja Jembrana tetap diberi hak memerintah,  tetapi dibawah pengaruh/supremasi Buleleng.
Di era ini hubungan harmonis umat Islam-Hindu (termasuk dengan kerajaan) tetap berlanjut. Itulah realitas seluk beluk Kerajaan Jembrana (Negara) yang sangat erat hubungannya dengan umat Islam. Hingga kini panji-panji Islam bertuliskan kalimat “La Illaha Ilallah” misalnya,  masih disimpan di Puri Negara, sebagai penghargaan atas perjuangan pengikut Syekh Syarif Al Qodri (pemuka Islam) menghadang serangan dari kerajaan lain
Kebersamaan kaum Hindu dengan komunitas lama kampung Islam ini juga terjalin hingga pada sektor sosial dan ekonomi. Orang Islam ada yang menggarap tanah pemeluk agama Hindu, begitu juga sebaliknya. Bahkan,  diantara dua komunitas juga terbangun sebuah akulturasi.  Bentuk lain akulturasi umat Islam dengan masyarakat Hindu  di lokasi ini dapat dilihat melalui kesenian Rebana. Kesenian ini dimainkan oleh beberapa orang yang semuanya mahir memainkan Rebana besar. Lirik dan syairnya bernafaskan Islam menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa Melayu. Namun, agar mudah diterima masyarakat sekitar, para seniman Rebana ini mengaransemen lagu-lagu yang mereka mainkan dengan irama khas Bali. Dengan begitu, masyarakat akan lebih menyukai kesenian ini dan makna syiar yang menjadi tujuan utama dapat tersampaikan dengan efektif. ***


SUMBER : http://dhurorudin.wordpress.com/2013/03/02/kampung-islam-loloan-dan-air-kuning-di-jembrana-bali-sebuah-entitas-lama-tulisan-21






Jumat, 14 Juni 2013

MJIB - 17. KH AHMAD AL-HADI, Pendiri Pesantren Pertama Kali di Pulau Bali *)




 
KH Ahmad Al-Hadi


Lahir pada tahun 1899 dari pasangan Kyai Dahlan Falak dan Nyai Ummu Kulsum Semarang dengan nama Ahmad. Semasa nyantri di Jamsaren, Kyai Idris Jamsaren memberikan julukan “al-Hadi” kepadanya sehingga ia pun dikenal dengan nama Ahmad al-Hadi. Disamping belajar kepada Kyai Idris, Ahmad muda juga pernah menuntut ilmu kepada sejumlah ulama besar tanah Jawa seperti Kyai Umar Sarang, Kyai Abdullah Termas, Kyai Khalil Bangkalan, Tuan Syeikh Jembrana [Bali] dan Kyai Hasyim Asy`ari. Ahmad al-Hadi juga pernah beberapa tahun menuntut ilmu di kota Mekkah sebelum akhirnya pulang ke Indonesia setelah Hijaz mengalami kekacauan besar akibat meletusnya revolusi Wahabi.


MENDIRIKAN PESANTREN DAN MADRASAH

Pada tahun 1929, Ahmad al-Hadi hendak kembali nyantri kepada Tuan Syeikh di kampung Timur Sungai Kabupaten Jembrana Provinsi Bali. Namun sesampainya di kampung Timur Sungai, Tuan Syaikh yang dicarinya telah meninggal dunia. Akibatnya, kampung timur sungai mengalami masa vakum [masa masyarakat tidak memiliki figur ulama]. Seorang bangsawan Melayu, Datuk Hasan Kaya, mengangkatnya menjadi anak dan bermaksud menjadikannya sebagai figur pengganti Tuan Syeikh.
Setelah diangkat menjadi anak oleh Datuk Hasan Kaya, sang ayah pun memintanya menetap di Kampung Timur Sungai. Ia dipinta untuk mengajarkan ilmu agama di Masjid Bait al-Qadim. Sementara segala kebutuhan hidupnya disokong sepenuhnya oleh ayah angkatnya. Mulai saat itulah Ahmad al-Hadi menjadi penduduk Loloan yang mayoritas bersuku Bugis-Melayu dan berperan sebagai ulama muda yang sangat bersemangat dalam dunia pendidikan. Di masanya, Ia lebih populer dengan nama Ustadz Semarang.
Setelah setahun bermukim di kampung Timur Sungai, tepatnya pada 11 Agustus 1930, Ahmad al-Hadi mendirikan pondok pesantren "Semarang" [kini bernama pondok pesantren Manba'ul Ulum]. Sebelum berdirinya pondok pesantren Semarang, sistem pendidikan di kawasan Jembrana dan Singaraja mengandalkan sistem pendidikan tradisional Langgar atau Surau. Namun setelah kedatangan Ahmad al-Hadi, sistem pondok pun segera diperkenalkan. Para santri disediakan tempat pemukiman di lingkungan pesantren dan dilatih untuk mempraktekkan ilmu yang mereka peroleh ke dalam kehidupan sehari-hari mereka di pesantren.
Di tahun yang sama, KH Ahmad al-Hadi juga memperkenalkan sistem pendidikan klasikal Islam “madrasah” kepada masyarakat muslim Jembrana. Disamping untuk memfasilitasi kebutuhan umat Islam akan pendidikan agama, pendirian madrasah juga ditujukan untuk mengkader generasi bangsa yang anti terhadap imperialisme dan kolonialisme Hindia Belanda. Para santri dan murid-murid madrasah tidak diperkenankan untuk menggunakan pakaian, atribut, ataupun alat-alat musik yang sering digunakan oleh Belanda.
Datuk Haji Imran, santri senior yang kelak menjadi menantu KH Ahmad al-Hadi dan pendiri pondok pesantren Riyadlus Shalilhin Melaya, tercatat sebagai seorang tokoh pemuda [sebutan untuk pejuang kemerdekaan] yang gigih melawan kolonialisme Belanda. Peran penting yang dimainkannya sebagai penghubung gerakan perjuangan kemerdekaan antara Bali bagian barat dan Jawa bagian timur membuat Datuk Haji Imran menjadi tokoh yang paling dicari oleh pasukan NICA (pemerintah sementara Belanda).


MENGAJARKAN AGAMA DENGAN SYAIR MELAYU

Walaupun berasal dari suku Jawa, namun kepedulian dan penghargaan Ahmad al-Hadi terhadap kebudayaan masyarakat Bugis-Melayu Bali, tempat ia tinggal, begitu besar. Setiap kali mengajar, ia tidak pernah menggunakan bahasa Jawa, namun selalu menggunakan bahasa Melayu. Ia juga rajin menggubah syair-syair nasihat yang ditujukan untuk mendidik santri agar memiliki akhlak yang mulia.
Disamping syair-syair nasihat, KH Ahmad al-Hadi juga menggubah ilmu dasar dari beberapa cabang ilmu agama yang diperolehnya dari kitab-kitab berbahasa Arab ke dalam syair-syair Melayu. Semua usahanya ini ditujukan untuk mempermudah para santri yang mayoritas awam akan bahasa Arab dapat memahami ajaran-ajaran Islam dengan mudah. Bahkan tradisi belajar sambil bersyair ini kemudian terus diwariskan di daerah Jembrana dan juga diajarkan oleh para alumni yang mengajar di sejumlah kabupaten di Bali.
Gubahan sya’irnya yang paling banyak dihafal adalah pengajaran Tajwid dengan pendekatan “Talaqqi” [dialog murid-guru]. Setiap guru bertanya, sang murid harus menjawab dengan syair yang berisi jumlah huruf yang memiliki status hukum tertentu dalam tajwid. Sebagai ilustrasi, dalam kasus idgham bila ghunnah, murid harus bisa menjawab pertanyaan guru tentang hukum “idgham bila ghunnah” dan menyebutkan syair berikut: “Idgham yang tidak ghunnah hurufnya : Cuma lah dua lam ra’ namanya”.
Di luar disiplin tajwid, Ahmad al-Hadi juga menggubah syair yang mengajarkan ilmu tauhid dan ilmu fiqh. Ada juga syair “Taubat” yang digunakan sebagai pembuka kegiatan “Taubat Nasuha” yang dilakukan oleh “Jama’ah al-Ikhlas”, jama’ah yang didirikannya dan memiliki prosedur pengangkatan bai’at sebagaimana laiknya prosedur umum yang ada di dunia tarekat. Konon Ijazah Jama`ah al-Ikhlas ini diterimanya dari Syeikh Hafidz Yamani.
Sedangkan syair-syair yang diperuntukkan kepada generasi muda, pada umumnya mengambil tema seputar etika bergaul remaja serta menumbuhkan rasa cinta dan kesetiaan terhadap tanah air dan bangsa Indonesia. Sayang, kriteria syair-syair yang membahas tema ini sudah tidak banyak dikenal lagi kecuali hanya oleh santri yang pernah menimba ilmu secara langsung kepadanya.


PENDIRI NU PERTAMA DI PULAU BALI

Pada tahun 1933 Jembrana dijadikan target penyebaran faham Islam puritan pertama di Bali. Gerakan keagamaan yang mengatasnamakan purifikasi agama [kaki tangan wahhabi] ini mengkampanyekan pembersihan agama dari Takhayyul, Bid’ah dan Khurafat serta menghujat praktik bermadzhab di kalangan umat Islam, sebuah gerakan yang meresahkan kehidupan masyarakat muslim di Jembrana.
Hal ini menyebabkan Ahmad al-Hadi tidak bisa tinggal diam. Ia maju untuk mempertahankan tradisi keagamaan umat Islam di Jembrana yang sudah berjalan berabad-abad lamanya. Ia menantang untuk melakukan debat terbuka terhadap siapapun yang berani mengutak-atik dan menyerang tradisi keagamaan yang disebutnya sebagai faham Ahlussunah wal Jama’ah. Bahkan untuk menjawab kecaman kelompok puritan terhadap praktek bermadzhab, Ahmad al-Hadi malah menunjukkan mewajibkan penggunaan “awik” atau cadar kepada semua santri dan murid perempuannya sebagai bukti kesetiaannya terhadap madzhab Syafi’i.
Namun untuk melawan gerakan Islam puritan yang terorganisir dengan baik tidak cukup hanya dengan perlawanan personal. Harus ada wadah persatuan yang dapat mengamankan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dari serangan kelompok-kelompok Islam lain. Hal inilah yang menyebabkan KH Abd. Wahab Hasbullah didatangkan ke Bali pada tahun 1934. Dengan hanya mengendarai Jukong, KH Abd. Wahab Hasbullah menyeberangi selat Bali dan mendarat di pelabuhan Jembrana [waktu itu pelabuhan yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Bali terletak di daerah Cupel].
Setelah beristirahat sejenak di Cupel, KH Abd. Wahab Hasbullah melanjutkan perjalanan menuju kampung Timur Sungai [Loloan Timur]. Disamping Masjid Agung Baitul Qadim Loloan Timur, KH Abd. Wahab Hasbullah mengenalkan NU kepada para alim ulama masyarakat Islam Jembrana. Dalam Kesempatan itu Kyai Wahab berpidato: “Kalau boleh diibaratkan sebagai penjual obat, Saya ingin menjajakan, saya punya obat kepada tuan-tuan, jika cocok alhamdulillah jika tidak cocok tidak apa-apa” [obat yang dimaksud adalah Nahdhatul Ulama].
Dalam pertemuan tersebut sempat terjadi tanya-jawab seputar masalah-masalah agama. Para ulama dan tokoh lokal Jembrana merasakan ada kecocokan antara ajaran Islam tradisional yang hidup di Jembrana dengan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah NU. Oleh karena itu, diplomasi Kyai Wahab dalam menawarkan NU ini dengan cepat dapat diterima dan menarik minat para ulama, para tokoh serta masyarakat setempat untuk bergabung ke dalam NU.
Mulai saat itulah organisasi NU berdiri dan memiliki struktur keorganisasian yang jelas. Sementara Ahmad al-Hadi segera dipilih secara aklamasi sebagai Rais `Am Cabang NU Jembrana yang sekaligus menjadi cabang NU pertama di pulau Bali. Di bawah kepemimpinannya, Gerakan NU di Jembrana segera mendirikan sejumlah madrasah di daerah-daerah yang menjadi basis umat Islam Jembrana. Walhasil, pada masa ini NU berhasil mendirikan madrasah di kampung Barat Sungai, Cupel dan Tukadaya sedangkan di kampung Timur Sungai sendiri telah berdiri madrasah yang beliau dirikan sebelum terbentuknya NU.
Namun setelah NU menjadi parpol, Kepemimpinan NU diserahkan kepada tiga ulama dari kampung Barat Sungai [Loloan Barat], antara lain: Ustadz Ali Bafaqih [pengasuh pondok pesantren Darul Huda Loloan Barat], Datuk Guru Nuh dan Datuk Haji Abdurrahman [Pengasuh Pesantren Darut Ta'lim Loloan Barat]. Sementara KH Ahmad al-Hadi sendiri segera menjauhkan diri dari arena politik praktis dan lebih memilih berkonsentrasi mengurus pesantren hingga akhir hayatnya.
Kendati KH Ahmad al-Hadi tidak aktif lagi di NU, namun anak-anak dan para menantunya tetap berjuang di garis depan dalam menegakkan NU, baik pada era Orde Lama, Orde Baru, maupun pada era reformasi. Ahmad al-Hadi atau Ustadz Semarang sendiri tutup usia pada tahun 1976 dan dikuburkan di depan masjid Agung Loloan Timur. Makamnya yang berdampingan dengan Kubur Syarif Abdullah al-Qadri, Adik Sultan Abdurrahman al-Qadri dari kerajaan Pontianak Kalimantan merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa-jasanya bagi perkembangan Islam di Bali.



__________________________________________________________
*).  Disadur dari tulisan Rifqil Halim Muhammad, NU Online

     http://emka.web.id/ke-nu-an/2012/kyaipedia-kh-ahmad-al-hadi-jembrana/




Kamis, 13 Juni 2013

MJIB - 18. Geguritan AHMAD MUHAMMAD dalam Kehidupan Masyarakat Jembrana Bali


__________________________


Ida Bagus Sugianto



ABSTRAK
Geguritan adalah salah satu karya sastra yang populer di Bali. Suatu bentuk karya sastra yang berkembang di Kabupaten Jembrana, Bali adalah Geguritan Ahmad Muhammad, yang merupakan geguritan perpaduan antara dua kebudayaan yaitu, kebudayaan Hindu dan Islam. Karya ini merupakan suatu varian budaya yang unik, yang terbentuk dari dua kebudayaan tadi. Geguritan yang bernafaskan Islam yang berkembang di Jembrana ini, tidak terlepas dari masuknya suku-suku pendatang seperti Bugis dan Pontianak ke Jembrana. Kebudayaan Plural yang berkembang kemudian menciptakan suatu karya budaya yang dapat mengembangkan varian yang unik dan digunakan dalam upacara siklus hidup baik masyarakat Bali-Hindu maupun masyarakat Bali-Islam.
Kata Kunci: kebudayaan plural, karya sastra unik.

ABSTRACT
Geguritan is one of the popular literary works in Bali. Geguritan Ahmad Muhammad is a form of literature that develops in Jembrana District, Bali, it is blended Geguritan among two cultures those are, Hindu and Islamic culture. This literary work is a unique cultural variant, which is formed from two those cultures. Islamic Geguritan develops in Jembrana, not apart from the entry of immigrant ethnics to Jembrana, such as Bugis and Pontianak. The develop plural culture then creates a work culture that can develop a unique variant and it used in the life cycle ceremony both for Balinese Hindu and Balinese Moslem.
Keywords: plural culture, unique literary work.



A. PENDAHULUAN
         
Keberadaan  orang-orang Bugis di Jembrana tidak terlepas dari situasi politik yang terjadi di Nusantara pada abad ke-16. Penyebaran orang-orang Bugis ini selain dikarenakan oleh budaya maritim orang-orang Bugis, juga dikarenakan perlawanan orang-orang Bugis terhadap Belanda. Hal ini dapat dilihat dengan kedatangan orang-orang Bugis di Jembrana yang menurut informasi dari sumber-sumber lokal dan pada tulisan Datuk Haji Sirad mengatakan bahwa orang-orang Bugis datang dari Makassar sewaktu terjadi peperangan antar kerajaan di Sulawesi Selatan bersamaan dengan datangnya Belanda (VOC) untuk merebut Makassar. Belanda baru berhasil merebut Makassar setelah diadakannya perjanjian Bungaya pada tahun 1667 (Farid, 1980: 80).
Pada awalnya, orang-orang Bugis memasuki wilayah Jembrana pada tahun 1653, tepatnya di pantai selatan di desa Air Kuning dengan menggunakan perahu perang jenis pinisi dan lambo (Tim Penulis, 1983: 119). Kedatangan dari orang-orang pendatang ini ke Jembrana sudah barang tentu menyebabkan pluralnya komposisi penduduk yang ada di Jembrana. Sebagai daerah dengan penduduk pluralnya, Jembrana termasuk sebagai wilayah yang berhasil mengakomodasi hubungan antar kelompok penduduk yang beragam. Keberhasilan akomodatif dalam peluluhan budaya ini berimplikasi terhadap kehidupan sosial budaya setempat secara kondusif. Berkembangnya afinitas kultural yang dapat mengakomodasi perbedaan yang ada memungkinkan akulturasi kebudayaan dapat berkembang secara positif di Jembrana (Arsana, 1997: 6). Afinitas kultural dapat mengarah pada pembentukan variasi-variasi dan terintegrasi sebagai suatu konfigurasi sistem kebudayaan serta mampu mengisi baik infra maupun supra struktur kebudayaan di Jembrana, seperti aspek fisik, perilaku, maupun nilai. Bidang-bidang kebudayaan yang memperlihatkan kaitan dengan itu diantaranya bahasa dan kesenian.
Dalam seni sastra, geguritan sebagai salah satu bagian seni sastra yang dikenal luas di seluruh Bali, ternyata mampu dikembangkan dalam varian yang agak khusus di Jembrana. Tembang dalam melagukannya memakai irama Bali, sedangkan tema lagunya diambil dari hikayat-hikayat Melayu, seperti misalnya Seh Ahmad Muhammad, Siti Bagdab, dan Johan Sah. Jenis kesenian ini biasanya dipentaskan dalam acara-acara selamatan seperti pernikahan, kelahiran bayi, dan tiga bulanan (Nyambutin, Bahasa Bali).
Dalam perkembangannya geguritan Ahmad Muhammad sampai sekarang masih digunakan dalam acara-acara pernikahan, tiga bulanan, sunatan, atau dalam upacara Mauludan di Jembrana. Dalam upacara pernikahan dan tiga bulanan baik itu dilaksanakan oleh penduduk Bali-Hindu maupun Bali-Islam (terutama di Loloan), geguritan Ahmad Muhammad selalu didendangkan. Dalam geguritan ini banyak terdapat petuah dan pesan-pesan terutama bagi mereka yang memasuki kehidupan baru (menikah), dan tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani kehidupannya setelah melalui masa pernikahan.
Dalam Geguritan Ahmad Muhammad terdapat berbagai nilai-nilai yang dapat dipelajari sebagai bekal untuk seseorang dalam menjalani kehidupan berumahtangga serta bagaimana seharusnya sikap seseorang baik sang suami maupun istri dalam bersikap dan bertindak setelah tiba waktunya bagi mereka memasuki masa untuk berumah tangga. Sikap seorang suami sebagai kepala rumah tangga dan sikap istri sebagai pendamping, sikap mereka dalam mendidik anak dan nilai-nilai yang hendaknya dituruti sehingga kehidupan keluarga dapat dijalani dengan baik dan bahagia.
          Dari pemaparan singkat tentang salah satu  bentuk kesenian (karya sastra) yang berkembang di Jembrana sebagai implikasi dari afinitas plural masyarakat di Jembrana dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1.    Bagaimana munculnya  Geguritan Ahmad Muhammad di Jembrana?
2.    Nilai dan Makna apa saja yang terdapat dalam Geguritan Ahmad  Muhammad?
3.    Bagaimana pengaruh Geguritan Ahmad Muhammad terhadap kehidupan masyarakat plural di Jembrana?
          Adapun tujuan dari penggarapan sejarah budaya yang berwujud kesenian (karya sastra), dan merupakan hasil dari akulturasi masyarakat plural yang ada di Jembrana, adalah untuk memahami perkembangan dari suatu karya seni yang menjadi landasan bagi kehidupan masyarakat plural di Kabupaten Jembrana, Bali; Untuk mengungkap keberadaan masyarakat pendatang di kabupaten Jembrana; Untuk memahami pola akomodasi kehidupan yang multi etnik di Jembrana; serta Mengidentifikasi karya budaya unik yang terbentuk dari afinitas masyarakat plural (Hindu-Islam) ditengah semakin maraknya pengakuan budaya bangsa oleh bangsa lain.  
Untuk dapat mengungkap sejarah budaya dalam hal ini sejarah karya sastra berupa Geguritan yang merupakan hasil akulturasi dari beragamnya masyarakat Jembrana, diperlukan suatu kerangka konseptual seperti yang relevan dengan objek yang akan dikaji. Untuk dapat membedah nilai sejarah dari Geguritan Ahmad Muhammad akan digunakan beberapa teori, diantaranya teori semiotik (pemahaman terhadap simbol), yaitu teori dari F. W. Dillistone yang menyebutkan simbol  sebagai suatu kata atau benda atau tindakan yang mewakili atau menggambarkan sesuatu yang lebih besar atau sebuah makna, suatu cita-cita, nilai, prestasi, kepercayaan, masyarakat,  konsep, dan realitas . Benda atau kata atau tindakan adalah simbol dan makna, realitas, cita-cita, nilai, kepercayaan, masyarakat, dan konsep, adalah refren (Dillistone, 2002: 21). Budaya manusia terwujud karena perkembangan lingkungan serta norma-norma hidupnya. Norma hidup ini terwujud dalam bentuk alam pikiran, alam budi, karya, tata susila, dan seni. Alam seni terbagi menjadi beberapa bagian yakni; seni rupa (pahat dan lukis), sastra, suara, tari, musik, drama, olah raga dan sebagainya.
Menurut Clifford Geertz, kebudayaan adalah pola dari makna-makna yang tertuang dalam simbol-simbol yang diwariskan melalui sejarah. Kebudayaan adalah sebuah sistem dari konsep-konsep yang diwariskan dan diungkapkan dalam bentuk-bentuk simbolik melalui mana manusia berkomunikasi, mengekalkan dan memperkembangkan pengetahuan tentang kehidupan ini dan bersikap terhadap kehidupan ini. Titik sentral rumusan kebudayaan Geertz terletak pada simbol bagaimana manusia berkomunikasi lewat simbol. Di satu sisi, simbol terbentuk melalui dinamisasi interaksi sosial, merupakan realitas empiris, yang kemudian diwariskan secara historis, bermuatan nilai-nilai; dan di sisi lain simbol merupakan acuan wawasan yang memberi petunjuk bagaimana warga budaya tertentu menjalani hidup, media sekaligus pesan komunikasi, dan representasi realitas sosial (Sobur, 2003: 178).
Sesuai dengan objek penelitiannya, penelitian ini menggunakan metode sejarah. Proses penelitian sejarah tidak terlepas dari definisi sejarah secara umum. Sejarah adalah ilmu yang mempelajari dinamika dan perkembangan kehidupan manusia sebagai mahluk sosial pada masa lampau (Taufik Abdullah, 1990: 6), mengaitkan dan merekonstruksikannya dalam bentuk tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan sebagai karya tulis sejarah. Hasil penulisannya adalah sejarah sebagaimana dikisahkan, yang menerangkan dan memahami peristiwa sebagaimana terjadi.
Untuk memenuhi standar penulisan sejarah digunakan metode sejarah yang pada pokoknya terdiri dari beberapa bagian yaitu; 1.Heuristik, 2. Kritik Sumber, 3. Interpretasi atau Auffasung, 4. Historiografi atau Darstellung (Gottschalk, 1986: 18). Heuristik adalah bentuk teknik menemukan sumber sejarah, baik di perpustakaan, koleksi pribadi, museum maupun dilokasi peristiwa, sumber-sumber tersebut terdiri dari dua jenis yaitu sumber primer (relevan dengan permasalahan) dan skunder (sumber pendukung). Heuristik dapat dilakukan pula dengan lisan, dan untuk mendapatkan sumber lisan dilakukan wawancara. Kebenaran suatu fakta sangat tergantung pada kemampuan untuk mempergunakan teknik kritik sejarah baik itu ekstern maupun intern. Interpretasi pada pokoknya selalu digunakan dalam setiap penulis sejarah seperti halnya sejarawan, harus mempunyai suatu pandangan sejarah baik itu sejarah lokal maupun sejarah Indonesia.
Kajian pustaka mempunyai fungsi ganda, yaitu di satu pihak untuk memperdalam dan memperluas wawasan tentang masalah yang akan dibahas atau relevan terhadap masalah-masalah yang akan dipecahkan (dapat dikatakan sebagai sumber primer). Di pihak lain, kepustakaan merupakan sumber sekunder yang memberikan data sebagai pembanding terhadap data di lapangan. Sumber Primer yang dijadikan rujukan dalam penelitian ini adalah Geguritan Ahmad Muhammad yang dialih aksarakan oleh I Gusti Kade Arka – Antap. Alih aksara geguritan Ahmad Muhammad ini kemudian disalin oleh I Gusti Agung Komang Widana.
Selain kajian pustaka untuk dapat melengkapi sumber juga dilakukan wawancara. Jenis-jenis wawancara yang dipakai adalah wawancara terpimpin dan wawancara mendalam (Koentjaraningrat, 1977 : 162-171). Dalam pelaksanaan metode ini telah pula disiapkan pula satu pedoman wawancara atau interview guide bagi si peneliti. Pedoman wawancara ini memuat pokok-pokok permasalahan dari substansi penelitian. Dengan demikian pewawancara mempunyai kebebasan untuk menggunakan caranya sendiri dalam mengajukan pertanyaan, sepanjang tidak menyimpang dari pokok permasalahan yang dimuat dalam pedoman wawancara.  Karena dalam penelitian ini periodesasinya mengambil abad ke-19, maka jenis pengumpulan data dengan cara wawancara hanya digunakan sebagai pembanding (Sumber Sekunder). 


B. PEMBAHASAN

Munculnya Geguritan Ahmad Muhammad Dalam Kehidupan Masyarakat Plural di Jembrana

Manuskrip peninggalan dari masa lampau dapat ditemui di hampir semua daerah di Indonesia. Teks-teks itu adalah curahan jiwa orang masa lampau dan dapat dijadikan sumber untuk membina kebudayaan dan mengembangkannya, karena dari manuskrip tersebut dapat dipelajari falsafah, kepercayaan dan masalah yang bersangkutan dengan kebutuhan hidup manusia secara menyeluruh. Pernyataan ini senada dengan pandangan Ikram (1980:76) yang menyatakan manuskrip adalah sumber yang tidak ternilai harganya karena ia mengandung gambaran mengenai pandangan hidup, adat istiadat, kepercayaan, dan sistem nilai masa lalu.
Dalam khasanah Sastra Bali, Geguritan telah terkenal pada kerajaan Klungkung sekitar awal abad ke-18. Karya sastra yang berbentuk puisi itu menggunakan bahasa Bali Kawi (identik dengan bahasa Jawa Kuna dan bahasa Jawa Pertengahan) dan bahasa Bali Kepara (bahasa Bali Lumrah - bahasa Bali yang digunakan sehari-hari) untuk keserasian tembang atau irama dalam bait.
Manuskrip Geguritan yang bernuansa Islam di Bali tidak dapat dipisahkan dari masuknya suku bangsa seperti Jawa, Bugis, Sasak, Madura dan Melayu ke daerah ini. Dari cerita turun-temurun itu terdapat keterangan bahwa sebanyak 40 orang Islam yang mula-mula datang ke Bali sebagai pengiring kepada Dalem Ketut Ngelesir (Raja Gegel) ketika pulang dari kunjungannya ke Majapahit. Semasa pemerintahan Dalem Waturenggong di Gelgel, sekitar tahun 1460, datanglah utusan dari Demak, namanya Kyai Jalil, yang selanjutnya mengembara ke arah timur di daerah kabupaten Karangasem (Wirawan dalam Saidi 2002:13). Tetapi, menurut Ginarsa dan Suparman (Saidi 2002:73-74), umat Islam datang ke Buleleng pada sekitar tahun 1587, ketika Raja I Gusti Ngurah Panji Sakti dan tentaranya berjaya menaklukan Blambangan. Lama kelamaan, banyak orang Jawa dari Blambangan, Pasuruan, Probolinggo, Ponorogo, Mayong, selain orang Bugis (akibat dikejar kapal-kapal Kompeni) bermukim di Buleleng, sebuah tanah jajahan.
Interaksi antara penduduk Bali (yang beragama Hindu) dengan orang Islam yang datang ke Bali sejak beberapa abad yang lalu itu memungkinkan mereka saling mempengaruhi, baik dari segi sosial maupun budaya. Hal itu dibuktikan dengan masyarakat Kampung Muslim di desa Pegayaman (Buleleng) sampai kini masih menggunakan nama depan khas Bali, termasuk I Wayan Ibrahim, I Made Shaleh Saad, I Nyoman Nurcholis Jamal dan I Ketut Imanuddin (Kusuma, Geguritan Nabi muhammad: Cermin Akulturasi Budaya Hindu-Islam di Bali, lihat www. kemuning bali. com, akses tanggal 20 Juni 2010).

a. Lintasan Sejarah Masuknya Umat Islam di Jembrana
Keberadaan Umat Islam di Jembrana diawali dengan kedatangan orang-orang Bugis di Desa Air Kuning. Setelah perang Makassar 1667 banyak pedagang-pedagang Bugis yang meninggalkan tanah kelahirannya karena terdesak oleh Belanda dan melihat Bali (Sunda Kecil) masih belum terjamah oleh Belanda pada saat itu. Kedatangan pelaut-pelaut Bugis di bawah pimpinan Daeng Nachoda di pelabuhan Air Kuning dalam usaha mereka menghindar dari kejaran Belanda. Keberadaan orang-orang Bugis yang pernah berlabuh di pelabuhan Air Kuning dibuktikan dengan adanya sebuah sumur air tawar yang sekarang masih ada yaitu Sumur Wajo. Sumur Wajo dikenal oleh penduduk setempat dengan sebutan Semer Bajo, lokasi sumur tersebut terletak di Kuala Perancak sebelah barat (Reken: 2002, 45). Dalam perkembangannya orang-orang Bugis memegang peranan penting di kerajaan Jembrana baik itu dalam bidang perekonomian, politik, militer, sosial dan budaya.
Di bidang perekonomian perahu-perahu orang Bugis berperan dalam mengangkut hasil pertanian dan perkebunan kerajaan Jembrana dalam memperdagangkannya ke daerah lain. Kebanyakan orang-orang Bugis di Jembrana bermatapencaharian sebagai nelayan, perahu yang digunakan untuk melaut menggunakan kontruksi dasar tradisional perahu pinisi. Dalam memajukan kerajaan Jembrana orang-orang Bugis sangat berperan terutama melancarkan perekonomian kerajaan Jembrana dengan memanfaatkan kepiawaian mereka dalam berdagang dan mengarungi lautan. Mereka berhubungan dengan pelabuhan-pelabuhan di Jawa Timur, bahkan sampai Palembang dan Sumbawa, Daeng Nachoda beserta anak buahnya juga melebarkan sayap perdagangannya sambil menyebarkan agama Islam. Pada awal abad ke-18, kerajaan Jembrana mulai dikenal berkat aktivitas perahu-perahu dagang Bugis-Makassar (Suwitha: 1985, 166).
Di bidang sosial dan budaya dapat dilihat dari keikutsertaan orang Bugis dalam keanggotaan subak, organisasi banjar dan gotong royong (Yuliani: 1993, 2). Dalam kehidupan berkesenian terdapat kesenian diantaranya seni tari dan nyanyi serta kesenian bela diri silat. Melalui seni tari dan nyanyi serta silat inilah kemudian dakwah dilakukan yang mengundang banyak peminat, dan agama Islam menyebar sampai di desa Banyubiru. Dalam bidang sastra berkembang Bahasa Melayu Loloan dan karya sastra berupa Geguritan yang dapat dikembangkan melalui suatu varian yang beda dan unik diantaranya Geguritan Ahmad Muhammad (Masyarakat di Jembrana melafalkannya/menyebutnya dengan Geguritan Amad).
Kedatangan Islam ke Jembrana selanjutnya adalah datangnya perahu layar bersenjatakan meriam dari arah timur yang ternyata mereka ini adalah sisa eskuadron Sultan Pontianak Syarif Abdurrahman Al-Qodery. Kedatangan mereka merupakan bentuk ketidaksetujuan adik sang Sultan yaitu Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al-Qodery atas tindakan kakaknya (Syarif Abdurrahman Al- Qodery), yang menyerahkan kedaulatan negerinya pada Kompeni Belanda pada tahun 1799 (Reken: 2002, 52).
 Dengan bantuan Syahbandar, Syarif Abdullah bin Yahya Maulana Al-Qodery diantar ke daerah yang sedang dibangun oleh raja Jembrana keempat (Anak Agung Putu Seloka). Daerah tersebut dinamakan ”Negara”, terletak di pinggiran sungai Ijogading. Beliau kemudian menawarkan bantuan kepada raja Jembrana dalam membangun kerajaan Jembrana (Reken: 2002, 54).

b. Pengenalan Beberapa Kesenian oleh Masyarakat Islam
Dalam bidang kebudayaan, terutama di bidang kesenian, masyarakat Bugis memperkenalkan seni silat kepada masyarakat lokal. Beberapa kesenian yang dapat membaur dalam kehidupan masyarakat plural di Jembrana diantaranya seni silat Bugis. Kesenian silat  dengan tabuhan genderang gaya Bugis (Makassar), di Jembrana pertama kali diajarkan oleh Daeng Marema dan Daeng Si Kuda Empat. Kedua tokoh Bugis ini menarik simpati rakyat yang beragama Hindu, kemudian makin banyak pengikutnya yang memasuki agama Islam (Reken: 2002, 50). Selain seni silat juga diperkenalkan seni musik yang berupa kesenian dengan menggunakan Rebana dan dikenal dengan sebutan seni Burdah. Kedua kesenian masyarakat Bugis  ini dapat berkolaborasi dengan seni masyarakat lokal yaitu seni Jegog. Kolaborasi antara seni masyarakat Bugis dengan masyarakat lokal Jembrana dikenal dengan nama Joged Janturan (Reken: 2001).
Dalam seni sastra, geguritan sebagai salah satu bagian seni sastra yang dikenal luas di seluruh Bali, ternyata mampu dikembangkan dalam varian yang agak khusus di Jembrana. Tembang dalam melagukannya memakai irama Bali, sedangkan tema lagunya diambil dari hikayat-hikayat Melayu, seperti misalnya Seh Ahmad Muhammad, Siti Bagdab, dan Jon Sah. Dalam perkembangannya geguritan Ahmad Muhammad sampai sekarang masih digunakan dalam acara-acara pernikahan, tiga bulanan, sunatan, atau dalam upacara Mauludan di Jembrana. Dalam upacara pernikahan dan tiga bulanan baik itu dilaksanakan oleh penduduk Bali-Hindu maupun Bali-Islam (terutama di Loloan), geguritan Ahmad Muhammad selalu didendangkan. Dalam geguritan ini banyak terdapat petuah dan pesan-pesan terutama bagi mereka yang memasuki kehidupan baru (menikah), dan tentang bagaimana seseorang seharusnya menjalani kehidupannya setelah melalui masa pernikahan.

c.  Identifikasi Naskah Geguritan Ahmad Muhammad
Naskah Geguritan Ahmad Muhammad berupa lontar, merupakan koleksi pribadi dan saat ini tersimpan di Banjar Antap, Desa Mendoyo Dangin Tukad, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana. Naskah geguritan ini telah dialih aksarakan oleh I Gusti Kade Arka pada tanggal 17 – 5 – 1997, dan dituliskan kembali oleh I Gusti Agung Komang Widana pada hari Umanis Galungan (sehari setelah hari raya Galungan) pada tanggal 25 – 4 – 2002.
Lontar Geguritan Ahmad Muhammad (para kelompok nyanyi atau sekaa santi di Jembrana lebih mengenal dengan sebutan Geguritan Amad atau Geguritan Amad Muamad) ditulis diatas daun lontar sejumlah 102 halaman bolak balik, dengan ukuran Panjang = 49 cm, lebar 3,5 cm, dengan tebal lontar = 1 mm. Halaman pertama dan halaman terakhir dari lontar kosong (disebut dengan pengangkep lontar), dan tiap halaman terdiri dari empat baris (pada) atau satu bait, namun tidak setiap halaman terdiri dari satu bait, dalam satu halaman terdapat tiga baris karena salah satu dari barisnya panjang sehingga untuk melengkapkan satu baris terdapat di halaman selanjutnya.
Bahasa yang digunakan dalam geguritan ini adalah bahasa Bali Kepara/Kasar. Kulit Lontar/sampul Lontar menggunakan kayu jati dan tempat dari lontar (keropak/kotak) menggunakan kayu jati. Seperti telah diutarakan sebelumnya, naskah Geguritan Ahmad Muhammad yang disalin dari lontar oleh I Gusti Kade Arka pada tanggal 17 – 5 – 1997, dan ditransliterasikan dalam huruf latin oleh I Gusti Agung Komang Mudana pada tanggal 25 – 4 – 2002, pada halaman pertama terdapat judul dari geguritan yaitu “PUNIKI GEGURITAN AMAD” (inilah geguritan ahmad), “Pupuh Ipun Dang Dang” (tembangnya adalah dandang), terdapat penyalin dari lontar, yaitu I Gusti Kade Arka, dari Desa Antap, selanjutnya terdapat penterjemah dari lontar tersebut yaitu, I Gusti Agung Komang Widana, serta terdapat pula juru ketik dari naskah yang ditransliterasikan oleh I Gusti Made Subrata. Pada halaman naskah yang telah tertranslasikan mulai dituliskan bait-bait pupuh dang dang Ahmad Muhammad, namun arti dari tiap-tiap baris yang dinyanyikan tidak dituliskan langsung pada naskah yang telah ditranslliterasikan, tugas dari juru arti yang nantinya mengartikan baris yang ditembangkan (dalam menembangkan geguritan di Bali, terdapat dua orang, satu orang bertugas untuk menyanyikan baris-baris dari geguritan dan satu orang bertugas sebagai orang yang mengartikan/menyampaikan arti dari tembang yang dinyanyikan tersebut).
Setelah dibaca naskah dari geguritan Ahmad Muhammad ini, dapat diungkapkan secara singkat sebagai berikut: Tersebutlah dua orang bersaudara yang terkenal sangat sakti, yang lebih tua bernama Bagenda Ali Sulaiman, dan yang lebih muda bernama Bagenda. Keduanya sangat sakti dan sangat terkenal di seluruh jagad, namun walaupun sakti, terdapat juga sifat kemanusiaan yang ada. Selanjutnya diceritakan di daerah lain terdapat seorang yang sangat miskin bernama Tuan Abit, dan kekayaannya hanyalah mempunyai seorang putri.
Putri dari Tuan Abit bernama Diah Sukaseni yang berparas sangat cantik. Suatu hari saat Diah Sukaseni yang berparas sangat cantik namun sangat miskin berjualan minyak dan mengalami musibah yaitu terjatuh. Guci yang dibawa sebagai tempat minyak pecah, dan seluruh minyak yang terdapat di dalamnya tumpah dan terhisap oleh tanah.
Saat Diah Sukaseni menangis meratapi kenyataan yang ada, datanglah Bagenda Ali Sulaiman. Beliau terpesona akan kecantikan Diah Sukaseni, beliau lalu bertanya kepada gadis yang menangis di depannya apa yang telah terjadi. Setelah Diah Sukaseni menceritakan apa yang dialaminya, Bagenda Ali Sulaiman menawarkan bantuan dengan syarat Diah Sukaseni mau untuk menjadi istrinya. Diah Sukasenipun dengan serta merta menyanggupi apa yang diminta oleh Bagenda Ali Sulaiman.
Bagenda Ali Sulaiman kemudian memunguti pecahan guci tempat minyak yang dijajakan oleh Diah Sukaseni, dan dengan kesaktiannya guci tersebut dapat kembali seperti semula. Tanah tempat jatuhnya minyak diambil kemudian diperas oleh Bagenda Ali Sulaiman, minyakpun keluar dan ditempatkan lagi ke guci yang telah dikembalikan bentuknya seperti semula. Dengan melakukan semua ini Bagenda Ali Sulaiman telah melakukan pengingkaran terhadap Shang Hyang Pertiwi, karena telah berani memeras tubuhnya. Bagenda Ali Sulaiman kemudian dikutuk kelak apabila telah meninggal nanti, kelak tubuhnya tidak akan diterima di tanah, atau tidak akan diterima oleh Hyang Pertiwi.
Bagenda Ali Sulaiman kemudian meminta maaf kepada Hyang Pertiwi, dengan alasan bahwa semua itu dilakukan untuk menolong Diah Sukaseni. Namun hal tersebut dipandang sebagai sifat congkak dari Bagenda Ali Sulaiman, karena pertolongan yang diberikan Bagenda Ali Sulaiman menyertakan syarat yang harus dipenuhi oleh Diah Sukaseni. Pertolongan itu dilakukan tidak dengan keikhlasan, namun lebih dikarenakan ketertarikan Bagenda Ali Sulaiman terhadap kecantikan paras dari Diah Sukaseni.
Singkat cerita, Bagenda Ali Sulaiman kemudian datang bertamu ke rumah Diah Sukaseni, disambut dengan baik oleh kedua orang tua Diah Sukaseni. Mereka menerima Bagenda Ali Sulaiman, yang merupakan orang yang telah membantu putri mereka dalam menghadapi permasalahan, sementara mereka merasa bersalah telah meragukan kesaktian dari Bagenda Ali Sulaiman. Bagenda Ali Sulaiman sendiri memohon maaf kepada kedua orang tua dari Diah Sukaseni, karena baru dapat berkunjung.
Sementara Bagenda Ali Sulaiman berbincang dengan Tuan Abit beserta istrinya, Diah Sukaseni bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman.Setelah siap, tanpa sengaja Diah Sukaseni bertabrakan dengan ibunya. Semua makanan dan minuman yang ada di atas nampan jatuh dan gelas serta piring pecah berantakan. Mendengar hal tersebut, Tuan Abit sangat terkejut dan melihat apa yang terjadi. Bagenda Ali Sulaiman kemudian menolong untuk mengatasi apa yang telah terjadi. Sekali lagi dengan kesaktiannya Bagenda Ali Sulaiman kembali menyatukan seluruh barang (piring dan gelas) yang pecah, dan mengembalikan makanan serta minumannya.
Tuan Abit kemudian memohon maaf kepada Bagenda Ali Sulaiman, Tuan Abit juga mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bagenda Ali Sulaiman karena sudi membantu dirinya dan keluarganya yang miskin. Tuan Abit juga menyatakan bahwa orang-orang seperti Bagenda Ali Sulaiman inilah yang sangat diperlukan oleh dunia ini, untuk dapat menyatukan perbedaan-perbedaan yang dapat memicu peperangan.
Bagenda Ali Sulaiman berkata kepada Tuan Abit untuk tidak terlalu mengagungkan dirinya, karena untuk melakukan apa yang telah dilakukannya untuk menolong beliau harus menanggung dosa, dan beliaupun mengakui bahwa dirinya tetaplah mempunyai dosa sama layaknya seperti manusia kebanyakan. Bagenda Ali Sulaiman kemudian menceritakan kembali apa yang telah dialaminya bersama Diah Sukaseni, beliau juga mengatakan bahwa Diah Sukaseni telah bersedia menjadi istrinya, dan sekarang kedatangan beliau juga untuk meminta kepada Tuan Abit untuk bisa melepas putrinya diperistri oleh dirinya.
Lanjut cerita, pernikahan Bagenda Ali Sulaiman dengan Diah Sukaseni berjalan dan dari pernikahan tersebut lahir dua orang anak. Keluarga tersebut menjadi lengkap, dengan Bagenda Ali Sulaiman sebagai suami yang memimpin rumah tangga, Diah Sukaseni sebagi istri yang mendampingi suami dalam menjalankan bahtera rumah tangga, dan dua orang anak sebagai pelengkap dan pelanjut kehidupan selanjutnya.
Singkat cerita, tiba saatnya keadaan dimana Bagenda Ali Sulaiman telah mangkat/meninggal. Seperti kutukannya pada saat beliau menolong Diah Sukaseni, maka tubuhnya tidak diterima oleh Sang Hyang Pertiwi. Saat dilaksanakan upacara penguburan oleh Rsi Sulaiman, dan adik Bagenda Ali Sulaiman yang bernama Bagenda, turunlah Hyang Pertiwi dan melarang jasad dari Bagenda Ali Sulaiman untuk dikubur, karena Bagenda Ali Sulaiman telah berani memeras tubuhnya untuk mengembalikan minyak yang telah tumpah pada saat menolong Diah Sukaseni. Apabila jasadnya tetap akan dikubur, maka jasadnya tidak akan diterima oleh tanah dan akan menghilang.
Rsi Sulaiman dan Bagenda sangat bingung akan hal yang terjadi, kemudian meminta bantuan kepada Sang Hyang Surya. Hyang Suryapun hendak menolong dengan memohonkan kepada Hyang Pertiwi agar jasad Bagenda Ali Sulaiman dapat dikuburkan. Karena apabila tidak dikuburkan maka dunia akan porak-poranda, karena akan tidak terjadi keseimbangan di dunia, setelah mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari Hyang Surya akhirnya luluh juga hati Hyang Pertiwi dan mengijinkan tubuh atau jasad Bagenda Ali Sulaiman untuk dikubur. Hyang Pertiwi hanya mengijinkan tubuh Bagenda Ali Sulaiman saja untuk dikubur, dan beliau memberikan pesan nantinya apabila tubuh seorang pemimpin agama atau pembimbing dalam kehidupan telah meninggal maka tubuh beliau tidaklah boleh menyentuh tanah.
Sekarang Diah Sukaseni harus menghidupi hidupnya dengan kedua anaknya dari pernikahan dengan bagenda Ali Sulaiman. Kedua anak itu adalah Si Ahmad dan Muhammad. Sekarang kedua anaknya, telah bersekolah. Bagenda Ali Sulaiman yang menyaksikan keduanya dari surga sangat sedih melihat apa yang dialami oleh Diah Sukasesni di dunia. Beliau kemudian meminta kepada Hyang Guru untuk memberikannya agar kembali ke dunia dan membantu kehidupan istrinya, Diah Sukaseni. Hyang Guru tidak dapat memenuhi permintaan dari Bagenda Ali Sulaiman, namun Hyang Guru memberikan jalan kepada Bagenda Ali Sulaiman agar dapat kembali menemani keluarganya tetapi sebagai seekor burung perkutut.
Diceritakan sekarang Diah Sukaseni hendak pergi ke pasar. Setelah kedua anaknya telah datang dari sekolah, Diah Sukaseni kemudian berangkat ke pasar, di tengah perjalanan Diah Sukaseni bertemu dengan seseorang yang sudah tua, yang menawarkan burung perkutut. Diah Sukaseni merasa bimbang, namun akhirnya Diah Sukaseni mau membeli burung tersebut, namun dia harus ke pasar dahulu untuk berdagang agar uang yang diperlukan untuk membeli burung tersebut genap jumlahnya.
Orang tua pedagang burung tersebut bertanya mengapa sangat lama Diah Sukaseni berjualan. Dan dijawab dengan kasar oleh Diah Sukaseni bahwa sangat sulit mencari uang. Mendengar jawaban kasar dari Diah Sukaseni, orang tua pedagang burung itu sangat marah dan mengutuk Diah Sukaseni tidak akan menemukan apa yang diinginkan karena telah bersikap kasar kepada orang yang sudah tua.
Diceritakan sekarang, burung yang dibeli sangat banyak orang yang menginginkannya. Suara burung tersebut sangat merdu dan keras. Hingga suatu saat ada seorang saudagar Bugis yang baru saja berdagang datang untuk berlabuh. Dia terpesona mendengar suara burung perkutut yang sangat merdu sekali, dan serta merta menyuruh anak buahnya untuk mencari asal suara merdu burung tersebut.
Lalu, ditemukanlah rumah tempat burung tersebut berada, yaitu di rumah Ahmad dan Muhammad. Burung tersebut ingin dibelinya seharga seribu ringgit, namun Ahmad dan Muhammad tidak berani untuk menjualnya. Karena sangat ingin memiliki burung tersebut, sang saudagar mengguna-gunai Diah Sukaseni. Diah sukaseni menjadi sangat suka kepada sang saudagar itu, dan gampang sekali marah kepada anak-anaknya, dan sudah tidak perduli lagi kepada anak-anaknya. Melihat keadaan ibunya seperti itu, Ahmad dan Muhammad terus berdoa dan berharap kepada Tuhan agar ibunya diselamatkan.
Suatu hari saat Ahmad dan Muhammad sedang bersekolah, saudagar Bugis itu menyuruh Diah Sukaseni untuk menyembelih burung perkutut itu, kemudian memanggangnya. Diceritakan sekarang Ahmad dan Muhammad telah pulang dari sekolah, Ahmad menanyakan kepada ibunya, dimana burungnya ditaruh. Diah Sukaseni mengatakan bahwa burungnya telah diserang kucing, namun tubuhnya masih tersisa dan dipanggangnya untuk lauk. Ahmad dan Muhammad sangat sedih akan hal tersebut, namun karena merasa lapar lalu keduanya memakan burung panggang itu.
Setelah selesai makan datanglah saudagar Bugis itu kembali, dan menanyakan dimana burung perkutut panggang disimpan kepada Diah Sukaseni. Diah Sukaseni kemudian menanyakan kepada kedua anaknya dimana burung panggang itu, dan dijawab bahwa mereka telah memakannya. Mendengar hal itu sang saudagar sangat marah. Ahmad dan Muhammad kemudian berlari dari rumahnya dan dikejar oleh sang saudagar. Mereka kemudian menemukan gua dan masuk kesana, dan bertemu dengan seorang Rsi bernama Dukuh Emas. Sang saudagar tetap menunggu di mulut goa.
Ahmad dan Muhammad kemudian diberikan senjata oleh Dukuh Emas, dan mereka keluar untuk bertarung dengan saudagar Bugis yang telah mengejarnya. Akhirnya sang saudagar berhasil dilumpuhkan. Ahmad kemudian mengajak kakaknya Muhammad untuk pulang. Ajakan tersebut ditolak oleh Muhammad karena ia merasa tidak diterima lagi di rumahnya. Muhammad kemudian mengajak adiknya untuk melanjutkan pengembaraan di dalam hutan. Setelah melakukan perjalanan menelusuri hutan, Muhammad merasa sangat lelah dan meminta untuk istirahat, Muhammad juga merasa haus dan meminta adiknya Ahmad untuk mencarikan air minum. Ahmad pun menyanggupi kakaknya, dan meminta kakaknya menunggu dibawah pohon sementara ia akan mencarikan kakaknya air.
Tidak diceritakan bagaimana Ahmad mencarikan air untuk kakaknya. Sekarang diceritakan bahwa di suatu daerah yang bernama Mesir, telah terjadi huru-hara di kerajaan sepeninggal dari Raja. Kemudian diadakan pertemuan untuk mencari seorang Raja yang akan memimpin jagat Mesir. Pertemuan tersebut antara seluruh permaisuri, selir, punggawa kerajaan, mahapatih, dan lainya berlangsung sangat alot. Tidak diceritakan bagaimana perjalanan pencarian raja oleh mahapatih dan punggawa kerajaan Mesir. Diceritakan sekarang patih dan punggawa telah sampai di tempat Muhammad yang sedang istirahat dan menunggu adiknya membawakan air minum. Melihat seorang anak yang tampan dan tampak gagah berwibawa walaupun sedang kelelahan, salah satu punggawa kerajaan melaporkan kepada patihnya. Kemudian sang patih menemui Muhammad dan meminta kepadanya untuk ikut serta ke Jagat Mesir.
Ahmad yang mendapati kakaknya tidak ada, merasa sedih dan berjalan menuju laut dan tertidur di tepi laut dan berpindah ke bawah pohon pisang di sebuah kebun. Diceritakan sekarang hari telah pagi, yang punya perkebunan dengan pembantunya telah terbangun. Si empunya (Siti Begedab) kebun menyuruh pembantunya untuk menyediakan kebutuhan untuk mandi. Setelah mandi, Siti Begedab meminta kepada pembantunya untuk memetik pisang yang telah matang, maka pergilah pembantunya itu untuk memetik buah pisang. Baru akan memetik buah pisang, sang pembantu menemukan seorang anak lelaki tertidur di bawah pohon pisang, hal ini dilaporkannya kepada tuannya.
Siti Begedab kemudian menuju ke perkebunannya, dan dia menemukan Ahmad (seorang anak lelaki) tertidur di bawah pohon pisang di kebunnya. Dibangunkannya anak lelaki tersebut, dan ditanyakannya siapa dirinya dan darimanakah asalnya. Lelaki tersebut menjawab bahwa dirinya bernama Ahmad, dan dia tidak tahu dari manakah dirinya berasal. Akhirnya Siti Begedab meminta pada Ahmad agar mau menjadi anaknya, karena ia tidak mempunyai anak laki-laki, yang akan mewarisi apa yang dimilikinya. Ahmad mau untuk diangkat menjadi anak oleh Siti Begedab, namun dia tetap minta izin agar diperbolehkan suatu saat nanti untuk mencari kakaknya yang terpisah dengan dirinya.
Sementara itu, apa yang terjadi di jagat Mesir, Muhammad telah diangkat menjadi raja disana. Kedatangannya disambut dengan meriah dan pengangkatannya telah disetujui oleh seluruh rakyat. Dalam upacara pengangkatannya Muhammad berjanji akan tetap menjalankan hal-hal yang dapat memakmurkan rakyatnya, namun ia akan tetap unuk mencari adiknya yang terpisah dengan dirinya, karena Muhammad dan adiknya Ahmad, adalah saudara kandung yang tetap tidak akan bisa terlepas satu sama lain. Dan untuk itu Muhammad akan terus berjuang sampai ia akan menemukan kembali adiknya Ahmad.

Nilai dan Makna yang terkandung dalam Geguritan Ahmad  Muhammad
Menurut Sedyawati, untuk dapat memahami manuskrip maka dilihat nilai-nilai yang terkandung di dalam manuskrip tersebut, untuk kemudian dihayati. Nilai – nilai tersebut dapat dijadikan pedoman dalam hidup kita, selai dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang(Sedyawati, 1995:65). Nilai-nilai tersebut biasanya tersamarkan dalam bait-bait yang dinyanyikan, dan terselubung dalam suatu kalimat yang harafiah. Untuk dapat memahami nilai-nilai tersebut serta makna yang terkandung di dalamnya diperlukan intepretasi yang sangat mendalam. Seperti halnya dalam memahami makna dalam suatu babad, sangat diperlukan kritik yang sangat mendalam sehingga apa yang terkandung dalam babad dapat ditranslasikan dalam kehidupan harafiah. Hal yang sama juga hendaknya dilakukan dalam memahami nilai-nilai yang terkandung dalam manuskrip tradisional.
Koentjaraningrat menyatakan bahwa walaupun nilai yang terkandung dalam manuskrip tradisional tersamar dalam bait-bait kata tertentu, apabila dipahami secara mendalam dan telaten maka akan dapat dimengerti. Dalam kerangka intepretasi itulah, maka karya sastra, termasuk manuskrip boleh dijadikan suatu sistem nilai yang penting kepada manusia dan masyarakat pada saat yang tertentu (Koentjaraningrat, 1990: 11).
Nilai yang terkandung dalam Geguritan Ahmad Muhammad melekat pada kepribadian setiap tokohnya yang mempunyai perwatakannya tersendiri. Melalui prilaku tokoh-tokoh itu dapat dibentuk nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman dan juga sumber rujukan kehidupan, utamanya nilai agama, etika, sosial, kekerabatan, dan lain sebagainya.
a.  Nilai dan Makna Agama.
Nilai Keagamaan dengan jelas dapat terlihat dari nama-nama tokoh yang digunakan dalam geguritan Ahmad Muhammad adalah mengambil nama-nama tokoh dari agama Islam, walaupun dalam ceritanya mengambil pemahaman dalam agama Hindu. Nama-nama seperti Bagenda Ali Sulaiman, Tuan Abit, Muhammad, Ahmad, Rsi Sulaiman, Siti Begedab, adalah nama-nama yang identik dengan umat Islam. Setting kejadian dalam geguritan inipun menyebutkan Jagat Mesir, yang tentunya merujuk kepada negara Mesir, daerah yang berdekatan dengan Timur tengah, sebagai daerah yang berbasis Islam yang kental.
Makna yang dapat diambil dari pemaparan di atas adalah seluruh agama dalah mengajarkan kedamaian dilihat dari dapat digunakannya nama-nama tokoh dan tempat yang identik dengan umat Islam dalam cerita yang menceritakan tentang kehidupan orang-orang Hindu. Toleransi antar umat beragama terlihat jelas di sini, perbedaan keyakinan tidak mempengaruhi pola kehidupan masyarakat yang plural di Jembrana, dan semua itu tergambarkan dalam suatu karya sastra dengan varian yang unik seperti geguritan Ahmad Muhammad ini.
Selain itu terdapat pula kepercayaan dalan Agama Hindu sampai sekarang seorang pendeta apabila telah meninggal maka prosesi ngaben tidak akan dilaksanakan menyentuh tanah, dan akan dipergunakan lembu dalam pembakaran jenazah seorang pendeta di Bali. Selain itu, Hyang Pertiwi juga tidak bisa menerima alasan Bagenda Ali Sulaiman yang menolong tanpa keikhlasan karena mau menolong dengan disertai syarat, yaitu Diah Sukaseni harus mau menjadi istrinya. Makna yang dapat diambil adalah, untuk menjadi pendeta di bali tidaklah orang sembarangan, namun orang tersebut harus dapat menempatkan kesalahan orang lain menjadi kesalahannya dan siap menanggung penderitaan dari orang lain, serta apabila menolong orang lain haruslah dengan keikhlasan (Suryanto, 2006: 43 - 44).
b.   Nilai dan Makna Etika.
Nilai-nilai yang ada dalam etika kehidupan bermasyarakat juga dapat dilihat adalah nilai kejujuran. Maknanya adalah untuk dapat menjunjung nilai kejujuran memang sangatlah sulit dan penuh dengan rintangan. Namun untuk dapat mencari kebenaran yang hakiki dengan kejujuranlah semua itu bisa didapatkan, dan seberat apapun rintangan-rintangan itu menghalangi kejujuran untuk dapat menunjukkan kebenaran, niscaya akan dapat dilalui dengan keteguhan hati, karena kebenaran akan selalu menang dan terungkap pada waktunya.
Nilai kesopanan juga terdapat dalam geguritan ini. Maknanya apabila kita berbicara kepada orang yang lebih tua, sebagai orang yang memegang adat ketimuran haruslah dengan sikap yang sopan dan sabar. Bagaimanapun suasana hati kita apabila berhadapan dengan orang tua haruslah bersifat sopan. Permasalahan akan dapat dengan cepat apabila diselesaikan dengan kepala yang dingin, dan sebaliknya permasalahan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan mudah akan menjadi sulit dan justru tidak dapat terpecahkan apabila dalam penyelesaiannya kita emosi, justru yang muncul kemudian adalah dendam.
c.    Nilai dan Makna Sosial
Nilai sosial tergambar dalam geguritan Ahmad Muhammad adalah, untuk dapat mengambil seseorang menjadi pasangan hidup haruslah mendapat restu dari orang tua. Hal ini juga sebagai legalitas dalam masyarakat sebagai kelengkapan dalam menjadi anggota masyarakat. Dalam adat Bali seseorang dapat dikatakan syah menjadi anggota masyarakat suatu daerah apabila telah menikah. Makna yang dapat diambil adalah dalam melengkapi siklus dalam  kehidupan agama Hindu mempunyai pemahaman bahwa seseorang akan menjalani empat tahapan dikenal dengan nama Catur Ashrama, yaitu Brahmacari (masa menuntut ilmu), Grahasta (masa berumah tangga), Wanaprasta (masa menjauhkan diri dari nafsu keduniawian), Bhiksuka/Sanyasin (masa mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar). Untuk dapat memenuhi keempat hal tersebut seseorang harus menyiapkan diri secara betul-betul, terutama pada saat akan menjalani kehidupan berumah tangga, karena pada masa kehidupan inilah, rintangan dan hambatan akan kehidupan yang sebenarnya akan dihadapi.
d.   Nilai dan Makna Kekerabatan
Nilai kekerabatan terlihat jelas di sini. Kebersamaan sebagai suatu keuarga sangatlah penting. Makna yang dapat diambil adalah kita sebagai saudara kandung sangat perlu kebersamaan dan saling menolong, karena tidak akan ada mantan adik atau mantan kakak. Garis darah telah mengikat seseorang dengan keluarganya. Kebiasaan saling menolong diterapkan dulu dalam kehidupan di keluarga dahulu, selanjutnya diterapkan pula dalam kehidupan bermasyarakat.
Pertalian darah antar saudara tidak dapat diputuskan, walaupun seseorang telah menjadi orang yang sukses ataupun menjadi orang yang telah berkuasa. Rasa persaudaraan akan tetap ada walaupun kondisi kehidupan telah berbeda atau terpisah jauh. Seperti yang diceritakan pada Geguritan ahmad Muhammad ini walaupun Muhammad telah menjadi seorang raja di jagat Mesir dan ahmad telah dipungut oleh seseorang yang mempunyai kebun yang luas dan kaya, namun keduanya tidak dapat menutupi keinginan masing-masing untuk dapat bertemu kembali.


Keberadaan Geguritan Ahmad Muhammad dalam Upacara Siklus Hidup Masyarakat Jembrana dan Perannya dalam kesatuan plural di Jembrana

a. Geguritan Ahmad Muhammad dalam Upacara Siklus Hidup Masyarakat Jembrana.
Upacara dalam siklus hidup masyarakat Jembrana biasanya diawali dengan upacara tiga bulanan (bahasa Bali nyambutin), dalam upacara ini bayi yang berumur tiga bulan diupacarai dan dalam prosesi upacara tiga bulanan ini biasanya dinyanyikan geguritan Ahmad Muhammad sebagai pelengkap dari upacaranya. Dalam menyanyikan Geguritan Ahmad Muhammad ini biasanya ditembangkan pada malam hari sebelum besok paginya prosesi upacara tiga bulanan dilaksanakan secara keseluruhan.
Hal yang sama juga dilakukan oleh umat Muslim di wilayah Loloan Timur, mereka juga melaksanakan upacara yang disebut Aqiqah. Upacara potong rambut untuk anak yang berusia 3 bulan. Biasanya upacara ini dilaksanakan pada bulan Maulid, upacara aqiqah ini biasanya dilanjutkan dengan upacara Maleh, prosesi acara aqiqah dan maleh adalah seorang anak yang dibawa ke masjid dikelilingi oleh para kerabat dan tetangganya secara bergantian dan kemudian sedikit demi sedikit rambutnya dipotong. Pada saat pemotongan rambut inilah prosesi diiringi oleh kesenian Burdah dengan Geguritan Ahmad Muhammad dipakai untuk tembangnya.
Pada upacara ini juga dihiasi dengan telur-telur yang disusun di sebuah batang pisang. Telur digunakan dalam upacara ini mempunyai pengertian bahwa tidak akan mungkin terjadi kelahiran apabila tidak ada telur terlebih dahulu (Panitia KKL IKIP Jakarta, 1996: 68). Pada upacara masyarakat muslim lainnya, yaitu upacara sunatan, Geguritan Ahmad Muhammad juga dinyanyikan dengan iringan kesenian adrah ataupun burdah.
Upacara selanjutnya dalam siklus hidup masyarakat Jembrana adalah Metugtug Kelihan (Upacara untuk anak yang telah menginjak masa remaja). Dalam prosesi upacara ini juga ditembangkan Geguritan Ahmad Muhammad. Seorang anak yang telah menginjak usia 13 – 15 tahun diupacarai sebagai penanda bahwa ia memasuki masa remaja. Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Muslim di Jembrana, mereka mengenalnya dengan sebutan upacara Menek Trun/Menek Truna. Sesaji yang dipersembahkan adalah nasi tumpeng dan sayur yang berhiaskan bunga, sedangkan lauknya adalah daging untuk laki-laki dan telur untuk perempuan. Pada masa lampau upacara ini merupakan masa awal pingitan bagi anak perempuan, dan masa untuk kebebasan untuk mengeluarkan pendapat dalam keluarga bagi anak laki-laki. Dari sudut keagamaan, setelah ini para remaja dibebani tugas-tugas keagamaan dan dikenai kaidah-kaidah yang menyangkut dosa dan pahala (Soemarsono, 1993: 66).
Selanjutnya adalah upacara Potong Gigi (bahasa Bali, Mepandes), yang dalam prosesinya juga ditembangkan Geguritan Ahmad Muhammad. Dalam upacara ini seorang akan diupacarai untuk membersihkan sifat-sifat kemanusiawian yang ada dalam dirinya. Dalam Agama Hindu dikenal enam musuh dalam kehidupan manusia atau dikenal dengan sebutan Sad Ripu, yaitu Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan), Lobha (ketamakan, ingin selalu mendapatkan lebih), Krodha (kemarahan yang melampaui batas dan tidak terkendalikan), Mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran), Moha (kebingungan, tidak dapat berkonsentrasi yang berakibat individu tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna), dan Matsarya (iri hati/dengki yang dapat menyebabkan permusuhan) (lihat, www.babadbali.com, akses tanggal 22 Juni 2010).
Upacara siklus hidup masyarakat Jembrana selanjutnya yang menggunakan Geguritan Ahmad Muhammad dalam prosesinya adalah upacara pernikahan. Maksud dan tujuan dari ditembangkannya Geguritan Ahmad Muhammad ini adalah agar mempelai berdua dapat mengambil nilai-nilai dan makna kehidupan yang terangkum dalam Geguritan Ahmad Muhammad itu sendiri, dan diharapkan keluarga yang dibina dapat menjadi bahagia. Nilai-nilai yang ada dalam Geguritan Ahmad muhammad juga nantinya akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, karena upacara pernikahan merupakan pengesahan bagi suatu pasangan untuk dapat selanjutnya terjun dalam kehidupan masyarakat dalam kehidupan sosialnya.

b. Peran Geguritan Ahmad Muhammad dalam menjaga kesatuan masyarakat Plural di Jembrana
Keberagaman etnik dari masyarakat Jembrana yang telah hidup rukun selama berabad-abad telah menciptakan pola hubungan atau interaksi baru yang menambah kasanah budaya. Bentuk-bentuk terjadinya akulturasi dari keberagaman etnik yang ada di Jembrana dapat dilihat dari keberadaan Pan Nyoling, seorang tokoh muslim dari desa Mertasari, mendirikan sekaa gending yang anggotanya bukan saja dari orang Bali Islam tetapi juga orang Bali Hindu, dan lewat sekaa gending yang diasuhnya ini Pan Nyoling juga melakukan dakwah dan memperluas agama Islam sampai dengan desa Banyubiru.
   Geguritan yang merupakan salah satu bagian dari seni sastra yang dikenal luas di seluruh pelosok Bali, mampu dikembangkan di Jembrana dalam varian khusus. Tembang dalam melagukannya memakai irama Bali, sedangkan tema lagunya diambil dari hikayat-hikayat Melayu, seperti misalnya Seh Ahmad Mohammad, Siti Baghdad, dan Johan Syah.
Geguritan Ahmad Muhammad terbukti telah mampu menjaga persatuan dan kesatuan dari keberagaman penduduk yang mendiami Jembrana. Memang keterkaitan dari penduduk yang beragam di Jembrana telah terjadi pada masa kerajaan, sehingga memberikan kesempatan pada karya-karya seni dapat berkembang baik karya seni dari masyarakat Bali-Hindu, maupun dari masyarakat Bali-Islam.
Geguritan Ahmad Muhammad yang digunakan pada upacara siklus hidup masyarakat Jembrana baik yang beragama Hindu, maupun beragama Islam menunjukkan betapa berperannya karya sastra ini dalam menjaga kerukunan antar umat beragama yang ada di Jembrana. Selain keterikatan sejarah yang menjaga kerukunan agar tetap terjaga, karya sastra yang memang dikenal unik karena memiliki varian baru dengan menyatukan dua unsur keagamaan juga berperan dalam menjaga kelestarian dan kesinambungan kesatuan dan persatuan masyarakat plural di Jembarana, Bali.

C. PENUTUP
Geguritan Ahmad Muhammad merupkan suatu karya sastra yang bernafaskan Hindu, yang terkolaborasikan dengan nafas Islami. Tokoh-tokoh Hindu dituliskan dengan menggunakan nama-nama yang bercirikan Islam, dan settingnya juga banyak mengambil daerah-daerah islam seperti Jagat Mesir. Geguritan Ahmad Muhammad ini sampai saat ini masih digunakan dalam upacara-upacara siklus hidup masyarakat di Jembrana, baik masyarakat Hindu maupun masyarakat Islam. Upacara-upacara itu misalnya tiga bulanan, metugtug kelihan, mepandes/potong gigi, pernikahan oleh masyarakat Hindu dan upacara aqiqah, maleh, menek truna, dan sunatan oleh masyarakat Islam.
Keberadaan Geguritan Ahmad Muhammad ini, yang digunakan dalam upacara siklus hidup baik oleh masyarakat Hindu dan masyarakat Islam di Jembrana merupakan perpanjangan akan pemahaman identitas diri dari masyarakat plural di Jembrana. Pemahaman sejarah yang menggambarkan kesatuan dari masyarakat berbeda latar belakang namun dapat hidup rukun berdampingan dapat tetap terjaga dengan berkembangnya karya sastra yang dikembangkan dengan unik ini. Apabila karya sastra ini dapat dijaga kelestariannya maka persatuan dan kesatuan masyarakat akan tetap terjaga dan kehidupan menjadi damai selalu. Salah satu karya sastra yang adiluhung ini hendaknya dapat dijaga kelestariannya karena bukan hanya dapat berkembang dengan keunikannya, tetapi juga dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan masyarakat pendukungnya.


DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik. 1990. Sejarah Lokal Di Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Arsana, I G N. 1997. “Pola Hubungan Antar Suku Bangsa (Kasus Afinitas Kultural di Jembrana)”, Paper, Disampaikan pada Widyakarya Nasional Antropologi dan Pembangunan, dan Kongres Antropologi Indonesia di Jakarta, tanggal 26 Agustus 1997.
Dillistone, F.W. 2002. Daya Kekuatan Simbol: The Power of Symbols. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Farid, Andi Zainal Abidin. 1980. “Penyebaran Orang-orang Bugis di Wilayah Pasifik”, dalam Lontara No. 7. Ujung Pandang: Universitas Hassanudin.
Ginarsa & Suparman. H.S, “Umat Islam di Buleleng”, dalam Saleh Saidi (ed.), Sejarah Keberadaan Ummat Islam Di Bali. Denpasar: Majelis Ulama Indonesia Bali.
Gottschalk, Louis. 1986. Mengerti Sejarah (Trans, Nugroho Notosusanto), Jakarta: Universitas Indonesia.
Ikram, Achadiati. 1980. ”Perlunya Memelihara Sastra Lama”, Analisis Kebudayaan, Jakarta: Universitas indonesia.
Koentjaraningrat. 1977. Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
----------------------. 1982, Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Panitia Pelaksana Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Jurusan Pendidikan Sejarah. 1996.  Laporan Kegiatan Kuliah Kerja Lapangan. Jembrana: IKIP Jakarta.
Ritzer, George & Douglas J. Goodman. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
Reken, I Wayan. 2001. ”Janturan, Adaptasi Adrah Loloan Oleh Nyama Bali”, disunting oleh: Nanoq da Kansas, dalam Jembrana Post.
---------------------. 2002. “Umat Islam Di Jembrana”, dalam Saleh Saidi (ed.), Sejarah Keberadaan Ummat Islam Di Bali. Denpasar: Majelis Ulama Indonesia Bali.
Sedyawati, Edi. 1995. “Pewarisan Nilai Sastra Antar Zaman”, dalam Kirana: Persembahan Untuk Prof. Dr. Haryati Soebadio. Jakarta: Pt Internusa.
Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sumarsono, “Bahasa Melayu Loloan di Bali: 1991. Struktur dan Unsur-unsur Bahasa Lain di Dalamnya”, Laporan Penelitian. Denpasar: Universitas Udayana.
-------------------------. 1993. Pemertahanan Bahasa Melayu Loloan di Bali. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Suryanto. 2006. Hindu Dibalik Tuduhan dan Prasangka, Yogyakarta: Narayana Smrti Press.
Suwitha. I Putu Gede. 1984. “Islam Dan Perahu Pinisi Di Selat Bali”, dalam Masyarakat Indonesia. Jakarta: LIPI.
-------------------------. 1985. “Hubungan Antar Suku Bangsa Dalam Masyarakat Majemuk di Jembrana, Bali”, dalam Masyarakat Indonesia Jakarta: LIPI.
-------------------------. 1988. “Politik dan Perdagangan Pada Abad XVIII – XIX: Kasus Bali”, dalam Widya Pustaka, Tahun Ke IV, Edisi Khusus. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Wirawan, A.A.B. 2002. “Umat Islam di Klungkung”, dalam Saleh Saidi (ed.), Sejarah Keberadaan Ummat Islam Di Bali. Denpasar: Majelis Ulama Indonesia Bali.
Yuliani, Ni Putu. 1993. “Kerukunan Antar Umat Beragama Di Jembrana Dan Buleleng 1856 – 1990: Suatu Tinjauan Sejarah”, Skripsi S-1, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana.