Jamaah Pengajian Google+

Selasa, 28 April 2015

MJIB - 28. MAKAM WALIPITU KARANG RUPIT DI SINGARAJA BALI







Makam Syech Abdul Qodir Muhammad (The Kuwan Lie)



Makam yang terkenal dengan sebutan Keramat Karang Rupit ini milik seorang muslim asal Cina bernama asli The Kwan Pao-Lie, disingkat The Kwan Lie, yang bergelar Syekh Abdul Qadir Muhammad. 

Lokasi makamnya di Desa Temukus (di samping Pura Agung Labuan Aji), Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Singaraja, Bali. Makam tersebut berada di tepi Jalan Raya Seririt, berjarak ± 12 km sebelah barat kota Singaraja. Makam ini cukup terkenal dan dikeramatkan oleh masyarakat muslim dan Hindu. Pada hari Rabu terakhir (Rebo kasan) bulan Shafar, banyak diantara mereka yang berziarah, dan uniknya masing-masing menggelar “selamatan” menurut keyakinannya sendiri-sendiri.

Proses penemuan. Berangkat dari isyarah (hatif) dalam riyadhoh-nya,6) KH Toyib Zaen Arfin dan timnya melakukan pencarian makam Walipitu Bali ke-6 di wilayah kabupaten Buleleng (Singaraja) pada akhir tahun 1995, dengan dipandu oleh adik kandung Habib Muhdhor bin Zainal Abidin Alydrus, yakni Habib Muhammad Alydrus. Berdasarkan ciri-ciri dalam isyarah tersebut, maka ditemukanlah sebuah makam di samping Pura Agung Labuan Aji yang terletak di pinggir pantai desa Temukus. 

Karomah. Menurut keterangan tokoh masyarakat dan orang-orang tua di Temukus dan sekitarnya, makam keramat Karang Rupit adalah milik seorang muslim asal Cina yang sejak dulu dikeramatkan oleh masyarakat Hindu dan Muslim. Keanehan dari makam ini, bahwa dulunya kedua batu nisan makam ini berada di tanah sejajar dengan tanah lainnya. Lama-kelamaan, kedua batu nisan beserta tanah kuburannya sedikit-demi sedikit terangkat keeatas setinggi 20 cm, lalu ditutup dengan ubin / porselin keliling makam. Ternyata ini terus berlanjut, yakni terangkat keatas, dan setiap tambah 20 cm lalu ditutup ubin-tegel / porselin, sampai keadaannya sekarang setinggi 2 meter. Menurut tim peneliti, barangkali ini merupakan karomah dari shohibul maqbaroh yang muncul setelah wafatnya.

Adapun nama pemilik makam, yakni The Kwan Pao-Lie (disingkat The Kwan Lie) bergelar Syekh Abdul Qodir Muhammad, merupakan hasil dari riyadhoh memohon petunjuk Alloh dan kontak batin yang dilakukan oleh KH Toyib dan Timnya.

Persoalannya, siapa sebenarnya The Kwan Lie? Menurut keterangan dari Bapak Abdurrahman (tetua desa Temukus, sekaligus pengelola tanah makam), bahwa sejak jaman dulu orang-orang tua desa Temukus tidak mengetahui secara jelas sejarahnya. Namun menurut cerita rakyat (legenda) dari mulut ke mulut, bahwa bangsa Cina yang menjadi pemilik makam Keramat Karang Rupit ini adalah seorang muslim yang sangat dekat dengan Prabu Erlangga dari kerajaan Majapahit, bahkan menjadi salah satu pengawalnya yang sangat setia. Dia bersama-sama dengan Prabu Erlangga pernah datang mengunjungi raja-raja di Buleleng. Sewaktu akan pulang ke Jawa, Prabu Erlangga menyuruh bangsa Cina beserta isterinya agar tetap tingal di desa Temukus untuk menjaga busana / pakaian sang Prabu. Sementara sang Prabu sendiri pulang ke Jawa naik perahu dengan menyamar mengenakan pakaian rakyat biasa. Tidak diketahui apa motif sang Prabu melakukan hal itu, yang jelas sang Prabu tidak kembali lagi ke Temukus, sampai kedua suami-isteri tersebut wafat dan dikuburkan secara Islam di Temukus. 

Sedangkan menurut kajian shohibul hikayah (KH Toyib dan Tim) bahwa nama tersebut “mirip” dengan nama Lie Guan  Hien dan Pai Lie Bang, yakni murid sunan Gunung Jati di Cina yang menjadi pengawal putri Cina “Ong Tien” yang ingin menemui Sunan Gunung Jati untuk dinikahi.7)  Nama “Lie Guan” dan “Pai Lei” (dengan membuang akhiran Hien dan Bang) terdengar secara batiniah / sirri berbunyi : The Kwan Pau Lie, disingkat The Kwan Lie. 

Shohibul hikayah menambahkan, bahwa The Kwan Lie bersama-sama dengan Prabu Erlangga pernah mengunjungi keraton Cirebon yang didirikan oleh Sunan Gunung Jati. The Kwan Lie sempat bertemu dan berguru agama Islam kepada Sunan Gunung Jati. Atau setidak-tidaknya, dia adalah salah satu murid Sunan Gunung Jati yang taat dan tekun menjalankan ajaran Islam, sekalipun rajanya, Prabu Erlangga, beragama Hindu.8) Oleh karena ketaatan dalam menjalankan perintah agama Islam dan perintah rajanya itulah yang mengantarkannya menjadi seorang Waliyyulloh di Buleleng. Wallohu A’lam bis-showab.