Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Konsepsi Suluk Wujil Tentang Tuhan





Suluk Wujil mengajarkan tentang Tuhan yang dihubungkan dengan persoalan tasawwuf. Misalnya ajaran tentang hubungan intim dan timbal-balik antara Tuhan dan manusia. Pembahasan mengenai Zat, Sifat dan Perbuatan Tuhan secara mendalam dan khusus, sebagaimana yang diketahui dan dibahas oleh ilmu Tauhid, tidak akan dijumpai di sini, karena bukanlah maksud Suluk Wujil untuk membahasnya secara ilmu Tauhid.
Suluk Wujil hanya membahas masalah Ketuhanan sepanjang ada kaitannya dengan persoalan pergaulan intim Tuhan dan manusia. Selain itu, Suluk Wujil kurang menampilkan argumen–argumen  untuk memperkuat ajarannya tentang Tuhan, baik argumen yang bersumber dari Al-Qur’an, Hadis Nabi dan pendapat para ulama, maupun argumen-argumen rasional lainnya. Mungkin hal itu didasarkan atas pemahaman Suluk Wujil bahwa adanya Tuhan merupakan suatu kenyataan iman yang harus diterima, atau mungkin ia lebih mementingkan segi perasaan keagamaan daripada sekedar ungkapan akal pikiran.
Suluk Wujil mengemukakan ajarannya tentang Tuhan sebagaimana halnya yang diajarkan oleh para ulama. Titik tolaknya ialah bahwa Allah swt adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada tuhan yang berhak disembah kesuali Allah, Tuhan Pencipta manusia, sebagaimana yang diungkapkan oleh bait-bait berikut ini :
Teks Suluk Wujil :

(15). Catur  prakara anasirneki // bumi geni angin iku toya // samana duk panapele // sipate iku catur // kahar jalal jamal lan kamil // katrapan sipating Hyang // wowolu kehipun // ….
(86). Nafi Nakirah lan Nafi Jinis // mapan iku jinising Pangeran // kang Nafi nyateng Itsbate // Nafi lan Itsbat iku // nora pisah pan ora tunggil // Nafi kalawan Itsbat // Nafi karoni pun // Nafi roro winaleran // dining ILLA karone tan kena manjing // maring lafal ILLA’LLAH.
(87). Hih ra Wujil kawruhana malih // kang Itsbat iku rekeh den nyata // atuduh marang Mutsbate // dalil kalawan mad-lul // iki rekeh saminireki // ingkang lafal ILLA’LLAH // Mutsbat aranipun // mutlak iku Ismu’llah // tan kena liyanena Pangeran kalih // anging lafal ILLA’LLAH.
Terjemahan Suluk Wujil :
 (15). “Empat macam anasir itu adalah : tanah, api, angin dan air. Ketika Tuhan menciptakan Adam, maka digunakanlah empat macam anasir tersebut, kahar, jalal, jamal dan kamal yang mengandung sifat-sifat Tuhan delapan macam….”
(86). “Nafi Nakirah dan Nafi Jinis merupakan Wujud (jenisnya) Tuhan. Nafi (negasi) mengandung Itsbat (konfirmasi, pengakuan). Nafi dan Itsbat itu tidak terpisah, dan juga tidak manunggal. Akan tetapi Nafi dan Itsbat, juga kedua macam Nafi (Nafi nakirah dan Nafi jinis) kedua-duanya dibatasi oleh kata ILLA (pengecualian, pembatasan), dan tidak boleh (atau tidak dapat) masuk kedalam lafazh ILLA’LLAH”.
(87). “Selanjutnya kau harus tahu, Wujil, bahwa yang namanya Itsbat (pengakuan : Ke-Ada-anNya) harus memberi petunjuk yang jelas kepada Mutsbat-nya (segala sesuatu yang dianggap “Ada”), seperti suatu Dalil (petunjuk) terhadap Madlul-nya (yang ditunjuk). Rumus Illa’allah dinamakan Mutsbat (Yang dianggap “Ada”), yakni secara mutlak merupakan Ismu’llah (Nama Pribadi Allah). Tuhan lain tidak boleh ditempatkan di samping-Nya. Hanya Dia Allah-lah rumus Illa’llah itu layak/tepat”.

Bait 15 di atas menjelaskan bahwa Tuhan adalah Pencipta manusia (Nabi Adam), sedangkan bait 86-87 menjelaskan bahwa yang berhak disebut Tuhan yang sebenarnya adalah Allah swt, tiada tuhan selain Allah. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh mensekutukan-Nya dengan sesuatu yang lain. Hanya saja, pandangan Suluk Wujil pada bait-bait tersebut lebih mencerminkan segi pandangan falsafah daripada segi religiusnya. Misalnya Al-Qur’an mengajarkan, bahwa manusia diciptakan Allah swt dari “thin” (tanah), sebagaimana yang disebutkan oleh QS Shad ayat 71 :
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
  Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, “Sesungguhnya Akulah yang menciptakan manusia dari tanah”.
 Sementara Suluk Wujil mengajarkan, bahwa manusia diciptakan dari empat unsur dunia, yakni tanah, api angin dan air, yang kemudian dilengkapi dengan empat sifat ketuhanan, yakni kahar, jalal, jamal dan kamil.
Mengenai keesaan Allah, Al-Qur’an mengajarkannya secara lugas sebagaimana tersebut dalam QS Al-Ikhlas : 1-4
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ(1)اللَّهُ الصَّمَدُ(2)لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ(3)وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ(4)
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
Sementara Suluk Wujil  menerangkan  Keesaan Allah dengan berpangkal pada kalimat tauhid La ilaha illa’llah (Tiada tuhan selain Allah), yang uraiannya hanya dapat dipahami secara kefilsafatan. (Lihat ungkapan bait 86-87 di muka). Pandangan Suluk Wujil yang terakhir ini akan dibahas secara tersendiri.
Suluk Wujil mencoba membedakan antara pemahaman orang biasa (kaum awam) dengan pemahaman orang utama (kaum sufi) tentang Tuhan, sebagaimana yang diungkapkan bait 25 s.d. 28 di bawah ini :
Teks Suluk Wujil :
(25).  … // beneh kang durung wikan.
 (26). Kasompokan denira ningali // karane tan katon pan kaliwat // tanpa rah-arah rupane // tuwin si ananipun // mapan wartaning kang utami // yen ta ora enggona // pegat tingalipun // tingal jati kang sampurna // aningali nakirah yakti dumeling // kang sajatining rupa.
 (27). Mapan tan ana bedane Wujil // dening kalindhih solahe ika // bedane tan seng purbane // Wujil sampun tan emut // lamun anggung tinutur Wujil // nora na kawusannya // siyang lawan dalu // den rasani wong akathah // kitabipun upama perkutut adi // asring den karya pikat.
 (28). Raosana ing rahina wengi // yen ora lawan wisik utama // mapan ora na gawene // lewih wong meneng iku // yen kumedal lidhahireki // uninipun punapa // …
 Terjemahan Suluk Wujil  :
(25).”… Lain halnya dengan orang yang belum mengenal-Nya.”
(26). “Pengertian tentang hal ini sangat terbatas. Dia sama sekali tidak berbentuk, oleh karena Dia tidak tampak oleh orang biasa, tetapi Dia Ada. Sesungguhnya menurut orang-orang utama, Dia tidak mempunyai tempat tertentu. Bagi orang yang berakhir penglihatannya, tampak sesuatu yang benar dan agung. Dan ketika dilihatnya wujud itu, dengan jelas tampak membayang Wujud yang sebenarnya”.
(27). “Antara Dia dan wujud ini, Oh, Wujil, Sesungguhnya tiada berbeda. Hanya Dia tidak tampak oleh karena terdesak oleh gerakan-gerakan (dari alam semesta). Jadi bedanya tidak tampak (terletak) pada sumbernya. Jangan kau lupakan selama-lamanya Wujil. Jika kita bicarakan tentang hal itu, tidak akan habis. Siang dan malam orang berbicara mengenai Dia. Kitab-kitab-Nya yang Suci seolah-olah merupakan burung perkutut yang bersuara merdu, yang kerap kali memikat orang lain kepada-Nya.”
(28). “Walaupun siang dan malam orang membicarakan-Nya, tetapi jika orang belum pernah memperoleh Ajaran Rahasia yang terbaik, tetap saja tidak ada faedahnya. Lebih baik kita tutup mulut tentang Dia. Betapapun orang membicarakan-Nya, apa yang dapat dikatakan tentang Dia?

Adapun yang dimaksudkan dengan Orang yang utama adalah orang yang mengenal ajaran rahasia alias ilmu tasawwuf, atau kaum sufi yang dalam kondisi “Fana’” pernah mengalami peristiwa seolah-olah  melihat Tuhan melalui hati sanubarinya (“Pegat tingalipun”). Lihat pertengahan bait 26 sampai awal bait 27.
Menurut Suluk Wujil, bagi orang-orang yang utama (kaum sufi), Tuhan tidak mempunyai tempat tertentu (Lihat pertengahan bait 26). Sedangkan bagi orang yang telah sempurna dan berakhir penglihatannya, bahwa di balik  wujud alam” yang tampak  ini ada “Wujud” Mutlak Yang Hakiki (Wujud yang sebenarnya), yakni “Wujud” Tuhan itu sendiri (Lihat akhir bait 26). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tiada “wujud” yang sebenarnya, kecuali “Wujud”  Tuhan Allah semata. Hal ini berarti, bahwa segala sesuatu yang ada ini, pada hakekatnya, adalah “Wujud” Tuhan, tidak ada perbedaan antara “Wujud Tuhan” dan “wujud dunia”, perbedaan kedua “wujud” tersebut hanya terletak pada sumber-nya masing-masing, yakni hakekat diri masing-masing.

2. Wujud Dunia dan Wujud Tuhan
Pandangan orang utama (kaum sufi), sebagaimana yang diuraikan di atas, sulit untuk diuraikan. Telah dikatakan, bahwa tiada perbedaan antara “Wujud” Tuhan dan dunia. Namun jika dilihat dari sudut “Purbane” (sumbernya), kedua “wujud” tersebut menunjukkan perbedaannya. Tampaknya, yang dimaksudkan dengan kata “Purbane” adalah asal-usul atau hakekat diri dari kedua “wujud” tersebut. Dengan demikian, perbedaan dan persamaan antara kedua wujud itu dapat diterangkan sebagai berikut :

a. Perbedaan “wujud dunia” dan “Wujud Tuhan”. Dipandang dari sudut “hakekat dirinya”, Tuhan merupakan “Wujud” yang sebenarnya dan dunia merupakan “wujud” yang bukan sebenarnya. Dikatakan “Wujud” yang sebenarnya, karena Wujud Tuhan menjadi “Ada” dengan sendirinya, tanpa bantuan yang lain. Sedangkan “wujud” dunia dikatakan “wujud” bukan sebenarnya, disebabkan keberadaannya itu tergantung atau ditentukan oleh “Ada” selainnya, yakni “Ada” Tuhan. Untuk itu dapat diandaikan, jika Tuhan “Tiada”, tentu dunia akan menjadi “tiada”. Sebaliknya, “tiada”-nya dunia tidak mengharuskan “Tiada”-nya Tuhan, karena Dia merupakan “Wujud  yang ada dengan sendirnya dan tidak tergantung kepada adanya “wujud” dunia. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa Hakekat Diri dunia  merupakan “ketiadaan”, sedangkan Hakekat Diri Tuhan merupakan “Ada” atau “Wujud” yang sebenarnya.
b. Persamaan “wujud dunia” dan “Wujud Tuhan”.  Wujud dunia” adalah identik dengan “Wujud Tuhan”. Hal ini dirumuskan dari ke-Ada-an Tuhan dan ke-ada-an dunia sebagaimana uraian di muka. Dunia dikatakan sebagai suatu “ketiadaan” atau “kekosongan” merupakan sesuatu yang mustahil, karena secara fenomenal, dunia ini memang “ada”, akan tetapi dilihat dari sudut hakekat diri-nya, dunia ini memang tidak memiliki sifat “ada” dan yang memiliki sifat “Ada” yang sebenarnya adalah hanya Tuhan. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dipandang dari sudut Hakekat Diri, maka yang disebut “Ada” adalah hanya Tuhan saja, atau dengan kata lain, Tiada “ada” yang sebenarnya (dunia) kecuali “Ada” Tuhan, yang berarti bahwa semua yang “ada” ini, dipandang dari segi hakekat diri-nya, adalah serba Tuhan. Dengan demikian, tiada perbedaan antara dunia dan Tuhan, keduanya identik.
Pandangan Suluk Wujil di atas sekilas pandang mengarah kepada faham yang pantehistik, karena ia mencoba meniadakan jurang pemisah antara “Ada” Tuhan dan “ada” dunia. (Lihat pengertian “pantheisme” pada Bab I Pendahuluan). Akan tetapi, jika dipandang dari keseluruhan bait ke-26 dan 27, hal itu mengisyaratkan, bahwa pandangan semacam itu merupakan pemahaman dari orang yang sedang mengalami kondisi “Fana’” , atau terhapusnya kesadaran pribadi, sehingga pandangan itu tidak bisa dijadikan sebagai tolok ukur kepanteistikan Suluk Wujil.
Agaknya, dengan isi kandungan bait 26 dan 27 di atas, Suluk Wujil mulai berbicara mengenai Tuhan dalam kaitannya dengan makhluk-Nya, sebagaimana hal ini juga dibahas oleh kaum sufi pada umumnya, dimana uraian mereka tidak mudah difahami oleh orang awam, kecuali oleh  orang-orang yang sefaham dengan mereka. Jika kaum awam berbicara tentang Tuhan berdasarkan argumentasi dan dalil yang tertulis didalam Kitab Suci Al-Qur’an, maka kaum sufi atau “Orang Utama” tidak cukup berdasarkan apa yang tertulis didalam Kitab Suci itu, akan tetapi didukung oleh pembuktian melihat Tuhan melalui mata batinnya (“Ma’rifat”), sehingga melahirkan suatu pemahaman, bahwa tiada perbedaan antara wujud dunia dan Wujud Tuhan, sebagaimana yang diuraikan didalam bait 27 dan 28 di atas.
Jika pemahaman kaum sufi semacam ini diajarkan kepada kaum awam, mungkin mereka akan beranggapan bahwa kaum sufi atau orang utama telah menyamakan wujud dunia dengan Wujud Tuhan. Oleh karena itu sangat wajar, jika Suluk Wujil memperingatkan kepada orang utama atau kaum sufi agar tidak membicarakan dan mengajarkan pemahamannya tentang Tuhan tersebut kepada orang awam. :
Teks Suluk Wujil :
(28). Raosana ing rahina wengi // yen ora lawan wisik utama // mapan ora na gawene // lewih wong meneng iku // yen kumedal lidhahireki // uninipun punapa // …
Terjemahan Suluk Wujil :
 (28). “Walaupun siang dan malam orang membicarakan-Nya, tetapi jika orang belum pernah memperoleh Ajaran Rahasia yang terbaik, tetap saja tidak ada faedahnya. Lebih baik kita tutup mulut tentang Dia. Betapapun orang membicarakan-Nya, apa yang dapat dikatakan tentang Dia?…”

Suluk Wujil selanjutnya mengemukakan konsepsinya tentang “Wujud Tuhan” dan “wujud dunia”.  Hal ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk menilai faham Ketuhanan Suluk Wujil.
Teks Suluk Wujil:
(84). Pun Wujil matur asahur bakti // panggrahitaning kawula mindha // tunggaling roro karsane // orane ananipun // ananipun oranireki // Sang Guru adi lingira // unggahe lingiku // pun Wujil asahur sembah // tan kena munggah raos kadi uniki // anuhun pangandika.
 (85). Sang Ratu Wahdat lingira aris // hih ra Wujil bener ujanira // samene iku unggahe // LA ILAHA puniku // amot Itsbat kalawan Nafi // Jatine ana-ora // iku tegesipun // Pangeran asipat ora // ing orane samput awit ananeki // anane’ku nakirah.
 (86). Nafi Nakirah lan Nafi Jinis // mapan iku jinising Pangeran // kang Nafi nyateng Itsbate // Nafi lan Itsbat iku // nora pisah pan ora tunggil // Nafi kalawan Itsbat // Nafi karoni pun // Nafi roro winaleran // dining ILLA karone tan kena manjing // maring lafal ILLA’LLAH.
 (87). Hih ra Wujil kawruhana malih // kang Itsbat iku rekeh den nyata // atuduh marang Mutsbate // dalil kalawan mad-lul // iki rekeh saminireki // ingkang lafal ILLA’LLAH // Mutsbat aranipun // mutlak iku Ismu’llah // tan kena liyanena Pangeran kalih // anging lafal ILLA’LLAH.
Terjemahan Suluk Wujil :
(84). Wujil melanjutkan dengan hormat, “Menurut pendapat seorang dungu seperti hamba, yang dimaksudkan oleh Gusti ialah Manunggalnya dua unsur : Ke-Tiada- -annya adalah  Ke-Ada-annya, dan Ke-Ada-annya adalah Ke-Tiada- -annya”. Sang Guru berkata, “Bagaimana penjelasanmu selanjutnya?”. Wujil sambil berdatang sembah, “Hal ini tidak dapat dijelaskan lagi. Apa pendapat Gusti?”.
(85). Sang Ratu Wahdat (Sunan Bonang) berkata perlahan-lahan, “Kau benar Wujil. Hal ini hanya dapat dibicarakan sampai di sini saja. La Ilaha meliputi Itsbat (konfirmasi) dan Nafi (negasi, penyangkalan), adalah ke-Ada-an dan ke-Tiada-an. Artinya : Hakekat dari Tuhan adalah Ketiadaan, dan didalam Ketiadaan-Nya itu Dia mulai Ada. Dan ADA-Nya itu disebut Nakirah (Ada Tuhan yang bersifat umum).  
(86). Nafi Nakirah dan Nafi Jinis merupakan Wujud (jenisnya) Tuhan. Nafi (negasi) mengandung Itsbat (konfirmasi, pengakuan). Nafi dan Itsbat itu tidak terpisah, dan juga tidak manunggal. Akan tetapi Nafi dan Itsbat, juga kedua macam Nafi (Nafi nakirah dan Nafi jinis) kedua-duanya dibatasi oleh kata ILLA (pengecualian, pembatasan), dan tidak boleh (atau tidak dapat) masuk kedalam lafazh ILLA’LLAH
 (87). “Selanjutnya kau harus tahu, Wujil, bahwa yang namanya Itsbat (pengakuan : Ke-Ada-anNya) harus memberi petunjuk yang jelas kepada Mutsbat-nya (segala sesuatu yang dianggap “Ada”), seperti suatu Dalil (petunjuk) terhadap Madlul-nya (yang ditunjuk). Rumus Illa’allah dinamakan Mutsbat (Yang dianggap Ada”), yakni secara mutlak merupakan Ismu’llah (Nama Pribadi Allah). Tuhan lain tidak boleh ditempatkan di samping-Nya. Hanya Dia Allah-lah rumus Illa’llah itu layak/tepat”.

Kalimat tauhid  “La ilaha illa’llah” menurut bait-bait di atas mengandung gagasan pokok tentang “Ada” Tuhandan “ada” dunia. Suluk Wujil mula-mula membahas lafal “La ilaha ”, yang artinya Tiada tuhan, yang disebut dengan rumusan Nafi, yang menunjuk kepada ada” dunia. Kemudian ia membahas lafal “illa’llah”, yang artinya kecuali Allah, yang disebut dengan rumusan Itsbat, yang menunjukkan kepada “Ada” Tuhan.
Namun perlu diingat, bahwa bait-bait di atas merupakan bagian yang sangat sulit untuk diuraikan, karena didalamnya terdapat beberapa istilah atau padanan kata yang kurang jelas batas-batas pengertiannya. Misalnya istilah “Itsbat”, “Nafi”, “Nafi Nakirah”, “Nafi Jinis”, “Dalil”, Madlul”, dan “Mutsbat”. Karenanya perlu dijelaskan terlebih dahulu pengertian beberapa istilah penting yang dianggap sebagai kunci dalam memahamai konsepsi Suluk Wujil tentang konsep “Yang Ada” atau konsep “Wujud”.
Istilah “Itsbat” dan “Nafi”, keduanya berasal dari bahasa arab. Kata “Itsbat” berasal dari kata :  الاِثْـبَاتُ   (Al-Itsbat), yang berarti peneguhan, pengiyaan atau penetapan. Sedangkan kata “Nafi” berasal dari kata : الـنَّـفِي (An-Nafi), yang berarti penyangkalan, peniadaan atau pengingkaran. (Warson,A., 2984 ; 157 dan 1549). Jika dikaitkan dengan konsep “Yang Ada”, maka istilah “Itsbat” berarti “peng-Ada-an” (konfirmasi), dan istilah “Nafi” berarti “pen-Tiada-an” (negasi).
Pengertian yang terkandung didalam istilah “Nafi” dibedakan menjadi dua macam, yakni “Nafi Jinis” dan “Nafi Nakirah”. Untuk mengetahui kedua pengertian Nafi tersebut, dapat diperbandingkan dengan uraian kitab “Suluk Ngasmara” berikut ini, (Zoetmulder, 1991 ; 103-107) :
Teks :
(1). Ngalap pawarta kang ening // pawartane wong kang mulya // angrasani ing jatine // tapsir ing napi lan itsbat // kang satuhu ning ora // napi jinis wastanipun // kapindu napi nakirah.
(2). Tegese kang napi jinis // sejati-jati ning ora // apan tan ana wujute // tegese napi nakirah // ana lawan pinurba // orane kalawan tuduh // iku jati ning nakirah.
(3). Kang ingaran napi jinis // atuduh ing dewekira // pan tan ana ing deweke // yogya mami waskitaa // dening basa nakirah // nora mujud nora makdum // pan tan kena winicara.
(4). Nanging si malih sireki // sampun boten amicara // ing roro iku raose // iku ingaranan ora // apan tan ana pisan // iku kajatine suwung  // liyep datanpa tamahan.
(5). Sakatahe kang dumadi // ingaran napi nakirah // atuduh anane dewe // pan dudu anane dawak // napi jinis ingaran // tan ana mamada iku // lawan sifat ing Pengeran.
Terjemahan :
(1). Marilah kita ingin memahami warta orang-orang yang mulia yang berbicara mengenai kebenaran, yaitu keterangan mengenai napi dan itsbat. “Tiada” yang sebenarnya bernama napi jinis, yang kedua bernama napi nakirah.
(2). Napi jinis berarti “Tiada” dalam arti yang sesungguhnya, karena ia memang tiada. Napi nakirah berarti “ada” sebagai makhluk, “tiada” tetapi dengan mengacu (kepada “Ada” yang lain). Inilah arti sejati dari kata nakirah.
(3). Yang dinamakan napi jinis hanya menunjukkan kepada dirinya sendiri. Pada dasarnya sama dengan “Tiada”. (Di sini Anda harap berhati-hati). Nakirah itu bukan “ada” atau “tiada”. Sebetulnya ini tidak dapat diungkapkan.
(4). Tetapi kau tokh harus membicarakan arti kedua itu. Yang satu disebut “tiada” karena seluruhnya memang “tiada”. Itulah kekosongan, lenyap tanpa batas.
(5). Tetapi segala sesuatu yang menjadi “ada” (wujud dunia) disebut napi nakirah. “Ada”-nya yang khas ialah menunjukkan (kepada “Ada” yang mutlak). Yang sama sekali tidak memiliki “Ada” disebut napi jinis. Kedua-duanya tidak mempunyai kemiripan dengan sifat-sifat Tuhan.
Dengan bantuan penjelasan dari Suluk Ngasmara di atas, maka dapat ditarik satu pengertian, bahwa yang dimaksudkan dengan “Nafi Jinis” adalah “Tiada” dalam arti yang sesungguhnya, karena dilihat dari sudut jenis-nya (atau dirinya sendiri) menunjukkan suatu “Ketiadaan”. Hal ini berarti bahwa Nafi Jinis adalah segala sesuatu yang pada hakekatnya tidak memiliki “ada”, karena ia memang tidak ada. Sedangkan yang dimaksud dengan “Nafi Nakirah” ialah “tiada” dilihat dari sudut Hakekat Dirinya, akan tetapi merupakan “ada” jika dilihat dari sudut hubungannya dengan “Ada” yang lain.
Berangkat dari pengertian Nafi dan Itsbat di atas, penulis mencoba merumuskan konsepsi tentang “Wujud Tuhan”  dan “wujud dunia, Imanensi dan Transendensi Tuhan, sebagaimana yang diuraikan Suluk Wujil bait 84 s.d. 87 di muka.

Wujud Dunia. Wujud dunia dapat dirumuskan dari makna yang terkandug didalam lafal “La ilaha” (tiada tuhan). Wujud dunia dapat dipandang dari dua sudut: pertama dari sudut dirinya sendiri dan kedua dari sudut hubungannya dengan wujud yang lain. Dipandang dari sudut dirinya sendiri, dunia merupakan suatu “ketiadaan”, karena ia pada hakekatnya tidak memiliki “ada”. Wujud dunia yang diartikan sebagai suatu “ketiadaan” semacam ini disebut Nafi Jinis. Namun jika dipandang dari sudut arah datangnya dirinya sendiri, maka wujud dunia ini dapat dikatakan “ada” dan “tiada”. Dikatakan “ada” karena ia berhubungan dengan “Ada” yang lain, dan dikatakan “tiada”, karena keberadaannya itu bukan merupakan “ada” yang sesungguhnya (mandiri), akan tetapi keberadaannya itu karena diadakan atau tergantung kepada “Ada” yang lain. Dengan kata lain, wujud dunia merupakan “ada” majazi, yakni “ada” yang bukan sesungguhnya. Pengertian semacam ini disebut Nafi nakirah.

Wujud Tuhan. Suluk Wujil merumuskan “Wujud Tuhan” sebagaimana yang diungkapkn oleh bait 85 dan 86 berikut ini :
Teks Suluk Wujil :
(85). … LA ILAHA puniku // amot Itsbat kalawan Nafi // Jatine ana-ora // iku tegesipun // Pangeran asipat ora // ing orane samput awit ananeki // anane’ku nakirah.
 (86). Nafi Nakirah lan Nafi Jinis // mapan iku jinising Pangeran // kang Nafi nyateng Itsbate // …
Terjemahan Suluk Wujil :
(85). … . La Ilaha meliputi Itsbat (konfirmasi) dan Nafi (negasi, penyangkalan), adalah ke-Ada-an dan ke-Tiada-an. Artinya : Hakekat dari Tuhan adalah Ketiadaan, dan didalam Ketiadaan-Nya itu Dia mulai Ada. Dan ADA-Nya itu disebut Nakirah (Ada Tuhan yang bersifat umum).  
(86). Nafi Nakirah dan Nafi Jinis merupakan Wujud (jenisnya) Tuhan. Nafi (negasi) mengandung Itsbat (konfirmasi, pengakuan)….

Menurut bait di atas, “Wujud Tuhan” dapat dirumuskan dari pernyataan lafal “La ilaha”, yakni pernyataan yang mengandung pengertian Nafi Jinis dan Nafi Nakirah. Padahal di muka sudah dijelaskan, bahwa kandungan lafal “La ilaha” itu menunjuk kepada “wujud dunia” . Apakah hal itu berarti bahwa “wujud dunia” sama dengan “Wujud Tuhan” ?.
Yang dimaksud dengan ungkapan bahwa“Wujud Tuhan dapat dirumuskan dari lafal La ilaha” adalah  bahwa lafal La ilaha merupakan pernyataan Nafi (penyangkalan), yang meliputi Nafi Jinis dan Nafi Nakirah. Kedua bentuk Nafi tersebut sekaligus mengandung suatu Pengakuan (Itsbat). Maksudnya, didalam Nafi Jinis tersebut, “wujud dunia” dipahami sebagai suatu “ketiadaan” dalam arti  yang sesungguhnya atau “kekosongan”, karena dunia pada hakekatnya tidak dapat mengadakan dirinya sendiri. Bahkan “ketiadaan” (Nafi jinis) tersebut dapat meliputi segala sesuatu yang ada, baik dunia maupun Tuhan. Hal ini berarti bahwa hakekat segala sesuatu yang ada ini merupakan suatu “ketiadaan” atau “kekosongan”. Sementara “ketiadaan” dunia dan Tuhan dalam pengertian yang sesungguhnya adalah mustahil. Dengan demikian, maka muncullah suatu “pengakuan” (Itsbat), bahwa di balik “ketiadaan” itu tentu ada “Ada” atau Wujud yang sebenarnya, yang mutlak dan ada dengan sendirinya, yakni “Ada” Tuhan. Sementara itu, didalam pengertian Nafi Nakirah, dunia dipahami sebagai sesuatu yang “ada” dan “tiada”, yang berarti wujud dunia bersifat majazi (boleh, mungkin, kiasan), dimana “ada” dan “tiada”-nya dunia tergantung kepada hubungannya dengan “Ada” yang lain. Hal ini akan memunculkan “pengakuan” (Itsbat), bahwa di luar “ada” dunia yang majaz ini, tentu ada “Ada” yang mutlak, yang mandiri dan tidak tergantung kepada “ada” yang lain. Itulah “Ada” Tuhan.
Ada” Tuhan yang mutlak dan mandiri tersebut masih dapat dikatakan “Nakirah”, yakni masih bersifat umum dan belum jelas. (Lihat bait 85 bagian akhir). Artinya, “Ada” Tuhan yang mutlak lagi mandiri tersebut tidak menunjuk kepada nama Tuhan tertentu. Persoalannya, “Siapa yang berhak disebut “Ada” Tuhan yang mutlak lagi mandiri itu?”. Maka Suluk Wujil menjawabnya dengan bait 87 berikut ini :
Teks Suluk Wujil :
(87). Hih ra Wujil kawruhana malih // kang Itsbat iku rekeh den nyata // atuduh marang Mutsbate // dalil kalawan mad-lul // iki rekeh saminireki // ingkang lafal ILLA’LLAH // Mutsbat aranipun // mutlak iku Ismu’llah // tan kena liyanena Pangeran kalih // anging lafal ILLA’LLAH.
Terjemahan Suluk Wujil :
(87). “Selanjutnya kau harus tahu, Wujil, bahwa yang namanya Itsbat (pengakuan : Ke-Ada-anNya) harus memberi petunjuk yang jelas kepada Mutsbat-nya (segala sesuatu yang dianggap “Ada”), seperti suatu Dalil (petunjuk) terhadap Madlul-nya (yang ditunjuk). Rumus Illa’allah dinamakan Mutsbat (Yang dianggap Ada”), yakni secara mutlak merupakan Ismu’llah (Nama Pribadi Allah). Tuhan lain tidak boleh ditempatkan di samping-Nya. Hanya Dia Allah-lah rumus Illa’llah itu layak/tepat”.

Menurut bait 87 di atas, yang berhak disebut “Ada” Tuhan yang mutlak lagi mandiri tersebut hanyalah ALLAH. Jadi “Allah” merupakan nama pribadi Tuhan (Ismu’llah). Hal ini berarti, bahwa segala sesuatu yang “dianggap” Tuhan, selain Tuhan Allah, adalah bukan Tuhan yang sebenarnya, atau bukan termasuk kategori “Ada” Tuhan yang mutlak lagi mandiri, melainkan masuk katerogi “ada” dunia.
Dengan penjelasan di atas, maka dapatlah disimpulkan, bahwa hakekat “Wujud Tuhan” dan “wujud dunia” adalah berbeda sama sekali dan tidak identik. Segala sesuatu (selain Allah) yang “dianggap” sebagai Tuhan tidak boleh disejajarkan atau ditempatkan sejajar di samping Tuhan Allah. Artinya, seseorang tidak boleh menyamakan antara dunia dan Tuhan Allah, serta tidak boleh menyekutukan Tuhan Allah dengan segala sesuatu selain-Nya (“ada” dunia).

Imanensi dan Transendensi Tuhan. Hakekat “wujud dunia” dan “Wujud Tuhan”, menurut pemahaman Suluk Wujil, adalah berbeda sama sekali. Apakah perbedaan itu juga berarti bahwa kedua “Wujud” ini terpisah sama sekali, yang berarti bahwa wujud dunia di sini dan Wujud Tuhan di sana? Ataukah perbedaan tersebut masih membutuhkan suatu hubungan antar keduanya, yang berarti bahwa keduanya tidak terpisah sama sekali ?
Suluk Wujil mengungkapkan hubungan antar kedua “wujud” tersebut didalam bait 86  berikut ini :
Teks Suluk Wujil :
(86). Nafi Nakirah lan Nafi Jinis // mapan iku jinising Pangeran // kang Nafi nyateng Itsbate // Nafi lan Itsbat iku // nora pisah pan ora tunggil // Nafi kalawan Itsbat // Nafi karoni pun // Nafi roro winaleran // dining ILLA karone tan kena manjing // maring lafal ILLA’LLAH.
Terjemahan Suluk Wujil :
(86). Nafi Nakirah dan Nafi Jinis merupakan Wujud (jenisnya) Tuhan. Nafi (negasi) mengandung Itsbat (konfirmasi, pengakuan). Nafi dan Itsbat itu tidak terpisah, dan juga tidak manunggal. Akan tetapi Nafi dan Itsbat, juga kedua macam Nafi (Nafi nakirah dan Nafi jinis) kedua-duanya dibatasi oleh kata ILLA (pengecualian, pembatasan), dan tidak boleh (atau tidak dapat) masuk kedalam lafazh ILLA’LLAH.

Menurut bait di atas, dunia dan Tuhan meskipun dikatakan berbeda, akan tetapi keduanya tidak terpisah sama sekali dan juga tidak “manunggal” sama sekali. Dunia merupakan “ada” majazi yang serba tergantung kepada “Ada” Tuhan, sementara Tuhan merupakan “Ada” hakiki, mutlak lagi mandiri, yang memberikan “ada” kepada dunia. Dalam hubungan antara keduanya, dunia berkedudukan sebagai “ada” tercipta atau makhluk, dan Tuhan berkedudukan sebagai “Ada” Pencipta atau Khalik sekaligus Pemelihara  dunia. Karena Tuhan berkedudukan sebagai Pencipta sekaligus Pemelihara terhadap makhluknya (dunia) itulah, maka Tuhan selalu mengadakan hubungan secara terus menerus dengan dunia makhluk-Nya, yang berarti bahwa Tuhan bersifat “immanen”. Jika Tuhan tidak mengadakan hubungan atau tidak immanen terhadap dunia ciptaan-Nya, maka dunia tidak akan menjadi “ada”, disebabkan karena hakekat keberadaan dunia merupakan “ada” majazi yang serba tergantung kepada keberadaan Tuhan.
Ke-Immanensi-an Tuhan terhadap dunia ciptaan-Nya tidak menyebabkan Diri-Nya (Dzat-Nya) larut kedalam dunia. Karena hakekat diri (Dzat) masing-masing memang berbeda, sehingga kedua “dzat” tersebut tidak akan dapat bercampur baur, tidak akan saling memasuki, dan tidak akan dapat bersatu padu dalam Satu kesatuan Wujud. Atas dasar kenyataan ini, maka Tuhan bersifat “Transenden”, yakni mengambil jarak terhadap dunia ciptaan-Nya.
Penjelasan di atas agaknya sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh bait 86 Suluk Wujil : “…Nafi lan Itsbat iku // nora pisah pan ora tunggil // Nafi kalawan Itsbat // Nafi karoni pun // Nafi roro winaleran // dining ILLA karone tan kena manjing // maring lafal ILLA’LLAH” (…Nafi dan Itsbat itu tidak terpisah, dan juga tidak manunggal. Akan tetapi Nafi dan Itsbat, juga kedua macam Nafi (Nafi nakirah dan Nafi jinis) kedua-duanya dibatasi oleh kata ILLA (pengecualian, pembatasan), dan tidak boleh (atau tidak dapat) masuk kedalam lafazh ILLA’LLAH.).
Dari pernyataan bait di atas dapatlah disimpulkan, bahwa Suluk Wujil mengajarkan tentang adanya Tuhan yang bersifat immanen sekaligus transenden. Ketransendenan Tuhan tidak mutlak dan keimanensian-Nya pun juga tidak mutlak. Ketransendenan-Nya mengandaikan adanya keimanensian-Nya. Dan begitu sebaliknya.