Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Pokok Isi Kandungan Kitab SUluk Wujil





Suluk Wujil merupakan jenis Kepustakaan Islam Jawa yang ditulis dalam bentuk Tembang, yang berisi 104 bait tembang. Gaya bahasa yang dipakainya menggambarkan suatu dialog antara seorang Guru (Ratu Wahdat, Sunan Bonang) dengan para muridnya, khususnya yang bernama Wujil. Di tengah-tengah dialognya, sesekali diselipkan suatu cerita atau sejarah perjalanan hidup seseorang. Misalnya cerita Seh Malaya (Sunan Kalijaga) yang pergi ke Mekah. Meskipun demikian, ke-104 bait syair tersebut merupakan satu kesatuan pikiran. Artinya masing-masing bait mengandung suatu ajaran tertentu yang bebrhubungan erat dengan isi ajaran pada bait-bait lainnya. Hanya saja, masing-masing bait tiak disusun berdasarkan bab-bab atau pokok pembahasan tertentu, sehingga sulit untuk merumuskan ajaran pokoknya. Akan tetapi secara implisit dapat diduga bahwa ajaran pokoknya adalah menyangkut ajaran tasawwuf.
Ajaran tasawwuf Suluk Wujil dapat dilihat pada rumusan berikut ini, yang disusun berdasarkan urutan bait-bait syairnya :
1.      Bait 1 s.d. 5 berisi permohonan Wujil kepada Sang Ratu Wahdat, Sunan Bonang,  agar diijinkan mempelajari “Ngelmu Kesempurnaan” atau Ajaran Rahasia dari perjalanan hidup manusia, yang lebih dikenal dengan Ilmu Tasawwuf, setelah ia merasa telah menamatkan pelajaran Agama Islam dalam bahasa arab selama sepuluh tahun. Sebagai imbalannya, ia akan menyerahkan hidup dan matinya untuk berkhidmat atau mengabdi kepada Sang Guru, Ratu Wahdat.
2.      Bait 6 s.d. 7 menjelaskan bahwa Sunan Bonang, dengan sikap  rendah hatinya, mengabulkan permohonan Wujil tersebut.
3.      Bait 8 s.d. 10, bahwa Ajaran Rahasia Ilmu Tasawwuf tersebut diajarkan di suatu tempat yang sepi dan jauh dari keramaian; tepatnya di tepi pantai Bonang. Terlebih dahulu diadakan semacam “Bai’at” atau  janji setia seorang murid kepada guru. Bait-bait tersebut juga menggambarkan adanya hubungan yang erat dan saling kasih sayang antara guru dengan muridnya.
4.      Bait 11 s.d. 17, Sunan Bonang memulai memberikan bekal yang harus dipegangi selama mempelajari tasawwuf. Tujuan mempelajarinya adalah bukan untuk menjadikan diri seseorang (“murid”) menempati posisi Tuhan, atau sebaliknya. Akan tetapi adalah untuk mendekatkan diri dan mengenal Tuhan, dengan melalui jalan atau cara mengenal kedudukan dirinya sebagai makhluk Tuhan dan memperbanyak melakukan berbagai ibadah, khususnya shalat dan berdzikir.
5.      Bait 18 s.d. 43 merupakan penjelasan dan rincian mengenal cara-cara atau jalan-jalan (suluk, thariqah) yang harus dilalui dalam mempelajari ilmu Tasawwuf, yakni berupa aktifitas-aktifitas tertentu, baik yang bersifat penyiksaan seperti mematikan hawa nafsu, mengasingkan diri di tempat yang sunyi (Uzlah), maupun aktifitas yang berbentuk perenungan seperti berdzikir dan shalat yang khusyuk.
6.      Bait 44 s.d. 67, menjelaskan perintah Sunan Bonang kepada Wujil agar memanggil santri putri yang bernama Satpada, kemudian perintahnya kepada Wujil agar mengantarkan surat kepada Seh Malaya (Sunan Kalijaga). Selama dalam perjalanannya mengantar surat Sang Guru, Wujil mendapatkan pelajaran secara tidak langsung, yakni pengalaman mistik.
7.      Bait 68 s.d. 73 berisi ulasan Sunan Bonang mengenai pengalaman Mistik yang pernah dialami Seh Malaya dalam hubungannya dengan perasaan Manunggaling kawula-Gusti.
8.      Bait 74 s.d. 84, menjelaskan dialog antara Sunan Bonang dengan kedua muridnya, Wujil dan Satpada, tentang konsep “Manunggaling kawula-Gusti” .
9.      Bait 85 s.d. 88 menjelaskan pandangan Sunan Bonang mengenai “Ada”-Nya Tuhan (Wujud Tuhan) dan “ada”-nya makhluk (Wujud Makhluk).
10.   Bait 89 s.d. 104 menceritakan pertunjukan Wayang di rumah Sunan Bonang, yang diteruskan dengan tukar pikiran dengan Sunan Kalijaga dan murid-muridnya mengenai Lakon Wayang yang baru saja dimainkan, dalam hubungannya dengan persoalan Ketuhanan dan juga menjelaskan pengalaman mistik Sunan Kalaijaga.
Ajaran Tasawwuf di atas nampaknya lebih menceriminkan sebagai ajaran Sunan Bonang kepada muridnya, Wujil, yang sudah mengerti tentang ilmu Tasawwuf, sehingga tidak diperlukan lagi adanya urut-urutan pembahasan. Lagi pula lebih menekankan pada segi pengalaman dan perasaan keagamaan (Praktis, amaliyah) daripada segi Pemikiran. Meskipun demikian, seluruh ajaran Suluk Wujil dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.      Ajaran tentang Tuhan
2.      Ajaran tentang manusia
3.      Ajaran tentang Manunggaling kawula-Gusti
4.      Ajaran tentang Jalan Kembali kepada Tuhan.