Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Profil Waisongo 7. Sunan Kudus






Sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Shadiq adalah putra Raden Usman Haji, alias Sunan Ngudung. Dilihat dari silsilah nasabnya ia masihketurunan Rasulullah
Menurut buku Sunan Kudus tulisan Solichin Salam, Raden Usman Haji adalah putra Raja Pandita bin Ibrahim Asmarakandi bin Maulana Muhammad Jumadil Kubro bin Zain al-Husain al-Kubra bin Zain al-‘Alim bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahra binti Rassulullah saw. Mungkin yang dimaksud dengan “Raja Pandita” di sini adalah Sekh Maulana Ishak. Dengan begitu, Raden Usman haji adalah saudara seayah dengan Sunan Giri, sedangkan Sunan Kudus berarti masih keponakan Sunan Giri.
Tidak diketahui dengan pasti kapan ia dilahirklan. Yang jelas, ayah Sunan Kudus, Raden Usman Haji, oleh persidangan para wali di Demak pernah ditunjuk sebagai Panglima perang dalam suatu peperangan melawan Majapahit (yang saat itu di bawah kendali kerajaan Daha Kediri), lalu gugur sebagai syuhada’. Untuk melanjutkan peperangan ini, maka ditunjuklah Sunan Kudus sebagai pengganti kedudukan ayahnya untuk memimpin bala tentara Demak. Dari sini dapat diketahui, bahwa pada awal berdirinya kerajaan Demak, Sunan Kudus sudah berusia cukup dewasa. Sunan Kudus wafat pada tahun 1501 syaka atau tahun 1579 M dan jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Agung Menara Kudus.
Sunan Kudus juga bergelar Amirul Hajj, karena ia pernah menjadi pemimpin rombongan jamaah haji. Sementara gelar Sunan Kudus diberikan kepadanya karena ia memilih tempat kediaman, menjadi imam serta menyiarkan agama Islam di kota Kudus dan sekitarnya. Ilmu agamanya cukup luas, terutama di bidang fiqih, ushul fiqh, tauhid, hadis, tafsir dan logika. Karena itulah ia diberi gelar Waliyyul ‘Ilmi (Orang yang luas keilmuannya). Di samping sebagai muballigh, ia juga menjadi panglima perang Kesultanan Demak yang tangguh, dan dipercaya untuk mengendalikan pemerintahan di daerah Kudus.
Sunan Kudus berjasa mendirikan Masjid Agung Kudus yang dilengkapi dengan “Menara” berbentuk seperti bangunan candi pada tahun 1468 syaka atau 1537 M. Masyarakat menyebutnya “Masjid Menara Kudus”. Menurut cerita babad, Sunan Kudus pernah belajar di kota Baitul Maqdis Palestina. Di sana ia pernah berjasa memberantas wabah penyakit ganas yang berjangkit di kota tersebut. Sedangkan menurut sumber cerita yang lain, peristiwa tadi terjadi sewaktu ia menunaikan haji ke kota Makkah. Maka atas jasanya ini, oleh Amir atau penguasa setempat, ia diberi hadiah. Namun Sunan Kudus berharap agar hadiah tersebut berupa sebuah batu dari Baitul Maqdis. Permintaannya lalu dipenuhi sang Amir. Sebagai peringatan mengenang peristiwa tersebut, sekembalinya di Jawa, ia mendirikan Masjid lengkap dengan menaranya yang diberi nama Masjid al-Aqsha. Sementara batu kenangan tersebut ditempelkan di atas pengimaman masjid. Kemudian daerah di sekitarnya diganti namanya dengan “Kudus”, yang diambil dari nama kota Baitul Maqdis atau Al-Quds.
Sunan Kudus memiliki kepribadian gagah berani, suatu sifat yang sangat diperlukan seorang Panglima perang. Ia terkenal seorang ulama ahli Fiqih yang sangat ketat dalam memegangi aturan syariat dan tegas dalam bertindak menghadapi kaum penyeleweng. Diriwayatkan, ia sangat berperan dalam kasus pelaksanaan eksekusi hukuman mati teradap diri Sekh Siti Jenar dan berhasil memadamkan pemberontakan murid Seh Siti Jenar yang dipimpin oleh Kebo Kenongo, seorang Bupati di Pengging.
Dalam cerita-cerita babad dikatakan, Sunan Kudus  menikahi Dewi Rukhil binti Sunan Bonang. Dengan begitu, silsilahnya bertemu dengan silsilah isterinya pada datuk yang bernama Ibrahim Asmarakandi. Dari perkawinannya ini ia mendapatkan seorang putra bernama Amir Hasan. Sumber lain mengatakan, ia juga menikahi putri Adipati Pecattanda dari Majapahit. Dari perkawinannya ini ia mendapatkan delapan anak, yaitu Nyi Ageng Pambayun, Panembahan Palembang, Panembahan Makaos Ronggo-kusumo, Pangeran Kodhi, Pangeran Karimun, Pangeran Sujoko (wafat masih jejaka), Ratu Pakojo dan Ratu Prodobinabar. Setelah wafatnya, jenazah beberapa anak Sunan Kudus dimakamkan di sekitar makamnya.