Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Profil Walisongo 1. Maulana Malik Ibrahim




Maulana Malik Ibrahim diyakini sebagai pelopor penyebaran Islam di Jawa dan menempati urutan pertama dalam Walisongo. Kitab Walisana menyebutnya sebagai : mula-mula tetalering Waliyullah, nenek moyang para Wali di Jawa. Para ahli sejarah tidak sepakat mengenai asal usul, tempat dan tahun kelahirannya. Ia diperkirakan lahir sekitar pertengahan abad 14, kira-kira tahun 1350 M.
Ada yang berpendapat bahwa Maulana Malik Ibrahim berasal dari Gujarat India  yang sengaja datang ke Jawa Timur untuk berdakwah, dengan alasan bahwa nisan makamnya buatan Gujarat.
Menurut Sumber yang lain, ia berasal dari Persia, lalu  menikah dengan saudari Raja Cermin. Pendapat ini pun tidak memiliki dasar yang kuat, dan sampai sekarang tidak dapat dipastikan dimana negeri Cermin berada. Hanya saja Stamford Raffles, penulis buku History of Java, mengatakan, bahwa negeri Cermin terletak di Hindustan, sementara yang lain mengatakan terletak di Indonesia.
Bahkan ada yang berpendapat, ia berasal dari Maghribi (Maroko) Afrika Utara, atas dasar bahwa masyarakat mengenalnya dengan julukan Syekh Maghribi atau Maulana Maghribi. Namun kurang kuat dasarnya.
Sumber lain menyebutkan, ia berasal dari arab dan nasabnya bertalian dengan golongan “Sayyid”,  keluarga Alawiyin dari Hadhramaut, keturunan Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali. Menurut sumber ini, ia adalah putra Barakat Zainul Alam bin  Jamaluddin al-Husaini bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhy bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abadin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Saw Thalib, suami Fathimah binti Rasulillah Saw.
Maulana Malik sejak kecil sudah belajar ilmu agama Islam kepada keluarganya (Alawiyyin) yang taat beragama. Hanya tidak ada keterangan tentang siapa dan darimana saja gurunya, sehingga  ia menjadi seorang ulama besar   
Dalam riwayat hidupnya, beliau berdakwah di Gresik selama 20 tahun. Beliau datang ke pulau Jawa dan menetap di desa Leran Manyar Gresik. Kota Gresik pada saat itu merupakan kota pelabuhan perdagangan yang sering dikunjungi para pedagang dari luar negeri. Ketika sampai di Gresik, Maulana Malik Ibrahim menghadap ke Raja Majapahit untuk berdakwah dan sekaligus mengajaknya masuk Islam. Oleh Raja Majapahit, beliau diberi sebidang Tanah perdikan di kampung Sawo. Di atas tanah itu didirikan sebuah Langgar[2] untuk pusat kegiatan ibadah dan pesantren untuk membina dan menyiapkan kader-kader penerus dakwahnya. Pesantren inilah yang menurut para pakar ditetapkan sebagai pesantren pertama kali muncul di Pulau Jawa. 
Dalam berbagai literatur, kedatangan Maulana Malik Ibrahim di Jawa Timur (Gresik) dicatat sebagai permulaan Islam di Jawa, khususnya Gresik, sehingga ia dipandang sebagai orang yang mula-mula memasukkan Islam  dan sebagai pendiri Pesantren pertama di Jawa. Namun, jika diperhatikan dari batu bertulis pada nisan makam Fatimah binti Maimun (“Kubur Panjang”) di desa Leran Manyar Gresik yang wafat pada tahun 475 H/1082 M, maka dapat disimpulkan, bahwa pada tiga abad sebelumnya, Islam sudah masuk ke Jawa, khususnya daerah pesisir Gresik. Dengan demikian, kedatangan Maulana Malik Ibrahim adalah dalam rangka membina masyarakat muslim yang sudah ada, di samping menyebarkan Islam kepada masyarakat Gresik yang pada umumnya  beragama Hindu-Budha. Akhlaknya yang mulia dan kepribadiannya yang menarik merupakan faktor yang membantu kelancaran dakwahnya. Sehingga makin banyak dari penduduk yang menjadi muslim. Setelah itu, didirikanlah semacam pesantren  untuk membina dan menyiapkan kader-kader penerus dakwahnya.
Maulana Malik Ibrahim wafat pada tanggal 12 Rabiul awal tahun 882 H/1419 M, berdasarkan tulisan pada nisan makamnya yang berada di desa Gapura Gresik. Dengan demikian dapat diduga bahwa beliau mulai menetap di Gresik pada tahun 1399 M.

__________________________________________

[1]  Silsilah Maulana Malik Ibrahim : S. Maulana Malik Ibrahim bin  Zainal Alam Barakat bin  Jamaluddin Husein bin Ahmad Basya bin Abdullah Syahin Syah bin Abdul Malik bin Alwi bin  Muhammad Sahib Mirbat bin  Ali Khali Qasam bin Alwi bin. Muhammad bin   Alwi bin  Abdullah Ubaidillah bin  AHMAD MUHAJIR bin  Isa bin Muhammad bin Ali Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin  Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin S. Sayidina Ali/Siti Fathimah binti Rasulullah Saw
[2] ) “Langgar” di kampung Sawo ini terkenal dengan sebutan Langgar Sawo. Langgar ini sampai saat ini masih ada, tetapi sudah beberapa kali mengalami renovasi.