Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Profil Walisongo 3. Sunan Bonang





Sunan Bonang yang bernama asli Raden Makhdum Ibrahim dilahirkan di Tuban (Menurut riwayat lain, ia lahir di Ampel Denta Surabaya) pada tahun 1465 M dan wafat di Tuban pada tahun 1524 M. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyi Ageng Manila binti Arya Teja III, Bupati Tuban. Silsilah nasabnya sama dengan silsilah Sunan Ampel di atas.
Sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya bersama-sama dengan para santri lain. Setelah cukup dewasa, ia bersama-sama dengan Raden Paku (Sunan Giri) diperintah oleh Sunan Ampel untuk berangkat haji ke Makkah sambil mempelajari ilmu agama di sana. Di tengah perjalanan, keduanya singgah di Pasai Aceh untuk memperdalam ilmu agama terutama tasawwuf, kepada Syekh Maulana Ishak (saudara sepupu ayahnya) yang pernah berdakwah di kerajaan Blambangan, dan juga menjadi ayah dari Sunan Giri sendiri.  Karena kecerdasannya, Makhdum Ibrahim memperoleh ilmu yang sangat luas dan dalam, sehingga ia dijuluki Prabu Hanyakrawati yang berkuasa dalam soal-soal Sesuluking Ngelmi lan Agami. Sepulangnya dari Makkah, ia kembali lagi ke Jawa untuk mengembangkan ilmunya dan memilih desa Bonang Tuban sebagai tempat tinggalnya. Sejak saat itu ia lebih dikenal dengan sebutan Sunan Bonang.
Sunan Bonang memperistri Dewi Hirah, anak R. Jakandar dari Madura dengan Dewi Nawangsari. Dari perkawinannya ini ia memperoleh seorang putri yang bernama Dewi Ruhil, yang nantinya diperistri Sunan Kudus. (Tarikhul Awliya’, KH Bisri Musthafa).
Aktifitas Sunan Bonang diperkirakan antara tahun 1475 M sampai 1525 M. Selama kurun waktu tersebut, peranannya cukup besar, baik di bidang dakwah Islamiyah, tasawwuf, sosial kemasyarakatan, maupun kenegaraan.
Di bidang Dakwah Islamiyah, Sunan Bonang sangat bersemangat menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, khususnya di Tuban. Di kota  ini ia mendirikan pesantren untuk membimbing para pemuda dan pemudi muslim menjadi kader-kader muballigh. Di dalam kitab Suluk Wujil yang disusun oleh tiga murid Sunan Bonang menceritakan pada bait 74-84, bahwa ia menyuruh santri putra yang bernama Wujil agar memanggil seorang santri putri bernama Satpada yang tinggal di asrama putri, untuk diajak berdialog dalam masalah pemahaman terhadap ajaran Manunggaling kawula-Gusti.
Sunan Bonang dinilai sebagai wali yang sangat berjasa dalam mengubah jalan hidup seorang penjahat kelas kakap, Raden Syahid, untuk menjadi seorang wali, yang dikemudian hari masyhur dengan julukan Sunan Kalijaga.
Sunan Bonang dan para wali lainnya dalam berdakwah selalu menyesuaikann diri dengan corak kebudayaan masyarakat yang sangat menggemari wayang dan musik gamelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan wayang sebagai media dakwah dengan menyisipkan nafas keislaman kedalamnya. Misalnya, kepercayaan terhadap para dewa sakti dalam cerita pewayangan, diganti dan diidentifikasikan sebagai para malaikat dan para Nabi. Bahkan dijelaskan, para dewa tersebut adalah keturunan Nabi Adam. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan kepercayaan kepada masyarakat yang mayoritas beragama Hindu-Budha, bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Esa, Tunggal, tidak ada duanya; sedangkan para dewa sebenarnya bukan “tuhan”, akan tetapi sekedar sebagai makhluk-Nya.
Para Wali menciptakan lagu atau tembang khas sendiri-sendiri. Misalnya, Sunan Giri menciptakan tembang  Asmaradana dan Pucung; Sunan Bonang tembang Durma; Sunan Kalijaga tembang Dandanggula; Sunan Kudus  tembang Maskumambang dan Mijil; Sunan Muria tembang Sinom dan Kinanti; dan Sunan Drajat tembang Pangkur. Syair lagu mereka berisi pesan-pesan ajaran tauhid.
Di bidang tasawwuf, barangkali Sunan Bonang merupakan satu-satunya Walisongo yang dapat diketahui secara jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan sebagai sumber rujukan. Paling tidak,  ajarannya tentang tasawwuf  dan ketauhidan dapat diketahui dari tiga sumber buku :
Pertama, dari karyanya yang terkenal dengan sebutan “Buku Bonang”. Naskah aslinya ditemukan oleh pedagang Belanda bernama Van Dulmen di daerah Tuban dan disimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda pada tahun 1597 M, yang kemudian dijadikan sebagai bahan tesis oleh DR B.J.O. Schrieke pada tahun 1916 dengan judul “Het Boek van Bonang”. Isinya menyangkut masalah tauhid dan tasawwuf menurut ajaran imam Al-Ghazali dan faham Ahlussunnah waljamaah, dengan memakai bahasa prosa Jawa Tengahan (pertengahan antara bahasa jawa kuno dan jawa modern) .
Kedua, kitab Primbon yang diyakini sebagai tulisan Sunan Bonang, terkenal dengan sebutan Primbon Abad ke-16. Naskah aslinya ditemukan bersama-sama dengan Buku Bonang di atas, kemudian dijadikan sebagai bahan tesis oleh DR J.G.H. Gunning pada tahun 1881 di Universitas Leiden dengan Judul Een Javaansche Geschrift uit de 16 de Eeuw. Isinya hampir sama dengan Buku Bonang. Hanya saja, naskah ini dimulai dari halaman 15 sampai 74, sedangkan halaman 1 sampai 14 hilang dan didalamnya tidak secara tegas menyebutkan nama penulisnya.
Ketiga, Kitab Suluk Wujil, dalam bentuk tulisan tembang (puisi jawa). Isinya menyangkut ajaran tasawwuf yang berpuncak pada ajaran Manunggaling kawula-Gusti menurut pemahaman Sunan Bonang.
Solichin Salam, dalam bukunya Sekitar Walisongo, mengutip secara ringkas ajaran Sunan Bonang tentang ajaran tasawwuf dan ketuhanan : “Adapun pendirian saya ialah, bahwa iman, tauhid dan makrifat merupakan pengetahuan yang sempurna. Sekiranya orang hanya mengenal makrifat saja, itu belum cukup. Sebab ia masih anshaf (setengah-setengah) dalam masalah ini. Yang saya maksudkan adalah, kesempurnaan dapat dicapai setelah mengabdi (beribadah) kepada Tuhan secara terus-menerus. Seseorang tidak menentukan geraknya sendiri, dan juga tidak menentukan kemauannya sendiri. Tiap orang adalah ibarat buta, tuli dan gagu. Semua gerak-geriknya ditentukan oleh Allah”.
Untuk lebih jelasnya, ajaran Sunan Bonang ini akan dikupas lebih luas dan dalam pada akhir tulisan ini, dibawah judul  “Ajaran-ajaran pokok Walisongo”.
Di bidang sosial kemasyarakatan dan kenegaraan, Sunan Bonang tidak perlu diragukan lagi dedikasinya sebagai pendukung setia kerajaan Islam Demak. Pada waktu pendirian Masjid Agung Demak, ia bersama-sama dengan para Wali ikut mendirikannya. Di antaranya, ia diberi tugas membuat salah satu sakaguru yang terletak di bagian barat laut.