Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Profil Walisongo 4. Sunan Giri





Sunan Giri yang bernama asli Raden Paku ini lahir di Blambangan Banyuwangi pada pertengahan abad ke-15, dan wafat di Giri Gresik pada tahun 1035 H/1506 M. Dari pihak ayahnya, ia masih keluarga Alawiyyin yang nasabnya sampai kepada Rasulullah. Sedangkan dari pihak ibunya, ia adalah cucu dari Raja Blambangan.
Ayahnya bernama Syekh Maulana Ishak bin Ibrahim Asmoro/Asmarakandi (berasal dari Samarkand, Asia Tengah. Kuburannya di desa Nggesik Tuban) bin Jamaluddin al-Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhammad bin Ali bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Abdullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhy bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal ‘Abadin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahra binti Rasulullah Saw.
Dari silsilah di atas dapat diketahui bahwa Sunan Giri adalah cucu dari Ibrahim Asmoro, yang berarti ia adalah keponakan Sunan Ampel, dan saudara sepupu Sunan Bonang dan Sunan Drajat.
Maulana Ishak yang terkenal dengan julukan ‘Uluwwul Islam (orang Islam yang berada pada puncak kedudukan) adalah seorang Guru Besar, khususnya di bidang ilmu ketuhanan dan tasawwuf, dan menjadi pembina pesantren di Pasai yang santrinya datang dari berbagai penjuru dunia Islam, terutama dari kepulauan Nusantara, India dan Persia. Dia adalah seorang yang zuhud, sangat sederhana, dan seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengajar dan berdakwah ke luar daerah. Selain mengajar, ia juga mengirimkan para santrinya yang memiliki ilmu yang cukup untuk berdakwah di berbagai daerah. Ia sendiri pernah datang ke Jawa dan tinggal beberapa waktu lamanya di kediaman Sunan Ampel, yang kemudian ditugasi untuk berdakwah di kalangan masyarakat dan keluarga istana kerajaan Blambangan.
Menurut cerita babad, Syekh Maulana Ishak berjasa menyembuhkan Rara Sabodi alias Dewi Sekardadu (Makamnya di bukit Petukangan Giri Gresik) putri Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu.  Atas jasanya ini, ia diambil menantu oleh sang Raja untuk diperistrikan dengan Dewi Sekardadu. Ia berusaha mengislamkan sang Raja, namun sang Raja tersinggung, mungkin disebabkan oleh metode berdakwahnya yang kurang tepat, akhirnya ia diusir dari istana tanpa diperbolehkan membawa serta isterinya yang sedang mengandung. Selanjutnya ia pulang ke negeri Pasai untuk mengajar dan membina pesantren di sana.
Tidak begitu lama setelah Dewi Sekardadu melahirkan seorang bayi lelaki yang diberi nama Raden Paku, terjadilah malapetaka, wabah penyakit dan kekacauan di Blambangan. Timbul prasangka buruk bahwa bencana ini disebabkan oleh kelahiran cucu sang Raja, maka dilarunglah bayi tersebut ke laut oleh kakeknya sendiri. Mujur, peti yang berisi bayi ini terkatung-katung mendekati kapal dagang milik Nyi Ageng Pinatih , seorang janda kaya dari Gresik (makamnya di desa Kebungson Gresik). Maka diambillah peti yang berisi bayi tersebut oleh nahkoda kapal yang bernama Sayyid Abdurrahman (Makamnya di bukit Petukangan, Giri Gresik), lalu dibawanya ke Gresik dan dipungut sebagai anak angkat oleh Nyi Ageng Pinatih yang juga dikenal dengan sebutan Nyi Ageng Tandes (karena berkedudukan di Gresik yang dulu terkenal dengan wilayah Tandes), Nyi Ageng Ternate, atau Nyi Ageng Maloka (karena ia menguasai jalur pedagangan sampai ke pulau Maluku). Setelah agak besar, Raden Paku diserahkan  kepada Sunan Ampel untuk dididik agama di pesantrennya. Bahkan di kemudian hari, ia diambil menantu oleh Sunan Ampel, diperisterikan dengan putrinya yang bernama Dewi Murthasiyah.
Selanjutnya Raden Paku bermaksud ke Makkah untuk berhajji dan memperdalam ilmunya di sana bersama-sama dengan Raden Makhdum Ibrahim. Di tengah perjalanannya, Raden Paku singgah di Pasai untuk mendalami ilmu kepada ayahnya, Maulana Ishak, untuk persiapan belajar di tanah suci. Oleh gurunya, yang sekaligus ayahnya, Raden Paku diberi gelar ‘Ainul Yaqin, disebabkan keberhasilannya mencapai maqam kasy-syaf  dan memperoleh Ilmu Ladunni.
Seusai belajar dan berhajji, Raden Paku pulang ke Gresik untuk mengembangkan ilmunya, disamping membantu kelancaran perdagangan ibu angkatnya. Setelah muridnya semakin banyak, ia meninggalkan perdagangannya dan memusatkan diri mengembangkan ilmunya dengan membuka pesantren di Giri Gresik. Pada masa-masa selanjutnya, Pesantren Giri menjadi pusat pendidikan dan pengajaran agama Islam. Para santrinya datang dari berbagai penjuru Nusantara, terutama wilayah Indonesia bagian Tengah dan Timur, seperti dari Madura, Bawean, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Lombok dan sekitarnya. Mereka yang dipandang memiliki ilmu yang cukup, lalu diutusnya untuk berdakwah ke wilayah Indonesia bagian tengah dan timur.
Sunan Giri terkenal sebagai seorang pendidik anak-anak. Banyak metode dan media pendidikan anak yang ia ciptakan, yang sebagian besar berbentuk permainan dan lagu anak-anak, seperti permainan jitungan, tembang jamuran, gendi gerit, jor, gula ganti, cublek-cublek suweng, ilir-ilir, dan lain-lain.
Tembang atau lagu ciptaan Sunan  Giri, jika kita cermati maknanya, mengandung ajaran Islam yang sangat tinggi. Misalnya tembang Ilir-ilir yang berbunyi :
Lir-ilir, lir-ilir, tandure wis sumilir // Tak ijo royo-royo dak sengguh penganten anyar // Cah angon, cah angon, penekno blombing kuwi // lunyu-lunyu penekno kanggo masuh dodotiro // Dodotiro-dodotiro, kumitir bedhah ing pinggir // dondomono jlumatono, kanggo sebp mengko sore // Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangane // Dak sorak-sorak… horee…!”.
Maksudnya : Makin subur dan tersiar agama Islam. Hijau royo-royo (lambang agama Islam) sangat menarik perhatian masyarakat, bagaikan penganten baru, karena baru dikenal masyarakat. Wahai penggembala (penguasa /pemimpin), lekas masuk islamlah dan laksanakan shalat lima waktu (dilambangkan dengan blimbing bersegi lima). Meskipun sulit dan berat, tetap laksanakanlah untuk mensucikan “dodotiro” (pakaianmu), yakni kepercayaan, jiwa dan hati anda yang kotor. “Dodotiro”, kepercayaan, jiwa dan hati anda yang robek (karena dirusak oleh kepercayaan lama, dosa dan maksiat) tersebut perbaikilah kembali untuk persiapan menghadap Tuhan pada akhir hayat nanti. Mumpung masih hidup dan mumpung punya kesempatan yang luas untuk bertaubat. Bergembiralah dan berbahagialah bagi orang-orang yang mensucikan diri.
Tembang Ilir-ilir di atas, menurut sementara pihak diciptakan Sunan Kalijaga. Oleh karena Sunan Giri sangat terkenal gemar menciptakan tembang dan permainan untuk pendidikan anak-anak, maka sangat besar kemungkinannya bahwa tembang di atas ciptaan Sunan Giri. Jika tidak demikian, paling tidak, tembang tersebut diciptakan pada jaman Walisongo. Masalah siapa penciptanya, bukan persoalan penting.
Kewibawaan dan pengaruh Sunan Giri sangat besar di kerajaan Demak. Hampir tidak ada persoalan besar dan penting yang tidak dimintakan fatwanya terlebih dahulu kepadanya. Bahkan menurut cerita babad, Sunan Giri-lah yang menjadi hakim pemutus dalam kasus Seh Siti Jenar. Dan di kalangan kelompok Walisongo, Sunan Giri termasuk wali yang dituakan, menduduki peringkat kedua setelah Sunan Ampel. Sedangkan di bidang politik, ia diberi gelar Tetunggul Khalifatullah, yang menjadi Raja bagi kaum muslimin. Di samping itu, Sunan Bonang pun juga salah satu tetua Walisongo, namun ia lebih dipandang sebagai pemimpin yang menguasai dan mengatur bidang Ngelmu, atau sebagai Panatagama. Karenanya, Sunan Bonang digelari dengan Prabu Hanyakrawati.