Jamaah Pengajian Google+

Senin, 22 Mei 2017

Profil Walisongo 9. Sunan Gunungjati





Sunan Gunungjati yang bernama asli Syarif Hidayatullah, menurut naskah silsilah yang disusun oleh Sayyid Ahmad bin Abdullah as-Saqqaf, adalah putra Syarif Abdullah bin Ali Nur Alam bin Maulana Jamaluddin al-Akbar al-Husain bin Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasam bin Ali bin Muhammad bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa an-Naqib bin Ali al-‘Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, suami Fathimah az-Zahrah binti Rasulullah saw. Hubungannya dengan Sunan Ampel, ia adalah keponakannya, karena nasabnya bertemu dengan Sunan Ampel pada datuknya yang bernama Maulana Jamaluddin al-Akbar al-Husain.
Sementara menurut buku Pustoko Darah Agung, Sunan Gunungjati adalah putra Sekh Maulana Ishak yang lahir dari isteri ketiganya, yakni seorang wanita (tidak jelas namanya) putri Batara Katong, salah satu dari putra Prabu Brawijaya V yang menjadi Adipati Majapahit di Ponorogo. Lepas dari salah dan benarnya silsilah tersebut, yang jelas Sunan Gunungjati adalah anak Sekh Maulana Ishak dan masih keturunan Rasulullah saw. Hubungannya dengan Sunan Giri, ia adalah saudara seayah berbeda ibu dengannya.
Syarif Hidayatullah lahir di Pasai dan tidak jelas tang-gal kelahirannya. Pada masa kecilnya, ia belajar agama pada ayahnya, Syekh Maulana Ishak, di Pasai. Menjelang dewasanya, Pasai diduduki oleh penjajah Portugis yang datang dari Malaka dan karena perasaan bencinya kepada kaum kafir tersebut, akhirnya ia terdorong pergi ke Makkah untuk menuntut ilmu sekaligus melakukan haji di sana.
Menurut buku Sejarah Banten Rante-rante, Syarif Hidayatullah menuntut ilmu, terutama tasawwuf dan tare-kat, di Makkah dan Madinah. Di sana ia di-baiat sebagai penganut tarekat  Syadziliyah, Syattariyah, Naqsyaban-diyah, dan terutama tarekat Kubrawiyah. Bahkan dicerita-kan, ia pertama kali berguru kepada Syekh Najmuddin al-Kubra (pendiri tarekat Kubrawiyah), lalu berguru kepada Ibnu Athaillah al-Sakandari al-Syadzili (penulis kitab Al-Hikam). Didalam buku itu juga disebutkan silsilah tarekat Kubrawiyah dan 27 murid seperguruan dengannya.
Namun cerita tersebut  agak janggal jika ditilik dari biografi Syekh Najmuddin yang wafat di Khawarizmi (Asia Tengah) pada tahun 1221 dan Ibnu Athaillah yang wafat di Mesir pada abad ke-13, dan juga ada beberapa “tokoh” yang dikatakan sebagai murid seperguruan dengannya ternyata hidup jauh sebelum Syarif Hidayatullah lahir.
Lepas dari salah dan benarnya, mungkin yang dimaksudkan oleh cerita tersebut adalah bahwa Syarif Hidayatullah mempelajari dan mendalami ajaran tarekat Kubrawiyah, tarekat Syadiliyah dan kitab tasawwuf Al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Atau mungkin yang dimaksudkannya adalah ia selalu berhubungan dengan para guru tarekat Kubrawiyah, baik di Makkah maupun setelah di Banten, karena pada saat itu tarekat ini telah diikuti oleh para pembesar Kesultanan Turki Usmani dan dianggap sebagai tarekat yang terhebat. Selain itu, tarekat ini sebelumnya memang sudah masuk ke tanah Jawa dibawa oleh Syekh Jumadil Kubra, nama lain dari Syekh Maulana Jamaluddin al-Husain al-Kubra yang menjadi nenek moyang para Walisongo, selain Sunan Kalijaga.
Setelah beberapa tahun berada di Makkah, ia pulang ke Pasai dan ternyata penjajah Portugis masih bercokol di sana. Hal ini semakin menambah kebenciannya kepada mereka, lalu memutuskan diri untuk meninggalkan Pasai menuju ke Jawa. Kedatangannya di Jawa pada tahun 1521 M mendapatkan sambutan baik dari Sultan Trenggono yang saat itu sedang berkuasa di Demak. Pada masa Sultan Trenggono (1521 – 1546 M) ini, Demak mengalami masa kejayaan. Daerahnya semakin luas dan angkatan lautnya pun cukup kuat, sehingga Demak berani menyerang dan mengusir Portugis yang sedang menjajah Malaka, meskipun tidak berhasil. Hanya penjajah portugis yang mencoba menjajah daerah Sunda Kelapa (tahun 1526 M) yang berhasil dihancurkan oleh pasukan Demak yang dipimpinan oleh Panglima Syarif Hidayatullah pada tahun 1527 M, setelah sebelumnya Banten dapat ditundukkan dari kekuasaan Pajajaran. Untuk menandai kemanangan ini, kota pelabuhan Sunda Kelapa diganti namanya dengan Jayakarta, yang berarti kota kemena-ngan. Sementara Syarif Hidayatullah sendiri mendapatkan julukan Fatahillah yang berarti kemenangan dari Allah, dan kemudian diucapkan secara salah oleh lidah Portugis dengan Falatehan.
Setahun kemudian, tahun 1528, kota pelabuhan Cirebon dapat direbutnya dari kekuasaan Pajajaran. Dan berkat bantuan dari Syarif Hidayatullah, beberapa wilayah Jawa Barat bagian pesisir utara Jawa (Banten, Jayakarta, Cirebon dan sekitarnya), yang tadinya di bawah kekuasaan Pajajaran, tunduk kepada Kesultanan Demak.  Alasan pokok perebutan wilayah tersebut adalah karena Pajajaran dipandang mengadakan persekutuan dengan Portugis, berdasarkan surat perjanjian yang ditandatangi oleh kedua pihak pada tahun 1522  di Pakuan Bogor, hal ini dikhawa-tirkan akan membahayakan Kesultanan Demak. Untuk menjaga kelestarian daerah tersebut, Syarif Hidayatullah diangkat sebagai penguasa di daerah tersebut, setelah sebelumnya Sultan Trenggono menikahkannya dengan saudara perempuannya, putri Raden Patah.
Selain menjadi penguasa, Syarif Hidayatullah juga menjadi seorang Muballigh yang menyebarkan agama Islam di wilayah yang dikuasainya. Meskipun diangkat sebagai penguasa dan berhasil mengislamkan masyarakat Jawa Barat bagian utara dan sekitarnya, serta sangat besar pengaruhnya di wilayah tersebut, ia tetap tunduk sepenuhnya dan menjadi pendukung setia kesultanan Demak. Baru setelah Sultan Trenggono wafat dan terjadi perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana Demak yang berakhir dengan kemenangan Jaka Tingkir alias Hadiwijaya (menantu Sultan Trenggono) sebagai sultan- nya, Syarif Hidayatullah lalu memisahkan diri dari Demak dan mendirikan kesultanan sendiri di Banten dan Cirebon. Karena sejak saat itu, Kesultanan Demak telah jatuh dan berganti menjadi Kesultanan Pajang.
Pada masa selanjutnya, Kesultanan Banten diserahkan kepada putranya yang tertua, bernama Hasanuddin, sementara ia sendiri mengurusi daerah Cirebon. Setelah tua, ia menyerahkan Kesultanan Cirebon kepada putranya yang muda  dan ia sendiri memusatkan diri untuk berdakwah sampai wafat di Cirebon pada tahun 1570. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Gunung Jati. Sejak saat itu ia lebih dikenal dengan julukan Sunan Gunungjati.